April 18, 2012

Untuk Pertama Kalinya


Malam itu terasa dingin, namun sejuk. Dua orang insan duduk dengan kepala menengadah ke atas, ke arah langit. Lukisan langit malam saat itu terlihat sangat indah, bintang-bintang memperlihatkan kilauan senyumnya. Keduanya duduk menempel dengan tanah, hanya beralaskan sebuah tikar lusuh. Seorang gadis dan seorang pemuda itu terus menatapi langit, menikmati keindahan yang tak bisa di dapatkan di pagi dan siang harinya. Gadis itu bernama Nina, memakai jumper berwarna abu gelap dengan bertuliskan merk sebuah brand di bagian depannya, memakai celana jeans panjang dan sneaker kesayangannya, rambutnya panjang sebahu dan dibiarkan terurai. Sedangkan pemuda itu bernama Randu, bergaya tengil, memakai celana jeans pendek, shirt berwarna hitam, rambut yang sedikit acak-acakan, di telinga kirinya tertindik sebuah anting perak kecil, dan kedua lengannya memeluk gitar, gitar kesayangan yang sudah menjadi sahabat baiknya selama bertahun-tahun.
 Suasana hening, hanya terdengar suara kumbang dan binatang malam. Pemuda itu mulai memetik gitarnya, sampai kemudian mengalun rentetan nada, dia memainkan sebuah lagu. Nina terhenyuk, terdiam tapi mendengarkan. Lagu itu tak asing baginya. Randu mulai bernyanyi, bait pertama. Nina terlihat mengikuti, tidak terdengar memang tapi mulutnya bergerak tepat mengikuti lirik lagu itu. Yah, itu lagu yang dibuatkan Randu untuknya, 4 tahun yang lalu. Lagu sebagai lambang perjuangannya mengejar cintanya. Ah, kenangan yang manis 4 tahun yang lalu, masih terlintas jelas dipikirannya. Saat masih memakai seragam putih abu-abu adalah masa untuk mereka berdua dulu, sebagai sepasang kekasih. Tapi saat ini, mereka duduk berdua hanya sebagai teman biasa.
4 tahun setelah berpisah, malam itu bukan kali pertamanya mereka bertemu. Mereke sering bertemu dalam beberapa kesempatan, terlebih lagi saat para teman dekat mengadakan sebuah acara. Kebanyakan teman-teman dekat dari Randu juga merupakan teman-teman dekat Nina. Tak jarang mereka terlibat dalam pembicaraan yang menyangkut masalah mereka 4 tahun yang lalu. Pertengkaranpun sering terjadi hanya karena masalah yang itu-itu saja. Namun tak butuh waktu yang lama juga untuk berbaikan lagi. Bagi Nina, Randu adalah seseorang yang benar-benar mengerti dirinya, mengetahui sifat baik dan jeleknya, tahu kapan ia berbicara jujur dan bohong, dia orang yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri dan dia adalah orang ternyaman baginya. Ia sendiri selalu bertanya, mengapa bisa melepasnya dulu, tanpa alasan, tanpa kesalahan. Pikirannya terlalu naïf, pendek. Beranggapan bahwa semua perhatian yang berlebih itu adalah suatu keposesifan, terlalu mengekang. Dia baru menyadari bahwa anggapan itu salah setelah kepergian Randu. Pun ia ikut menyadari betapa ia sangat menyayanginya. Tapi sudahlah, keadaan tak bisa selalu kita raih dengan semudah membalikkan telapak tangan. Kini, ia bisa menerima semua itu dan menjalaninya hanya sebagai teman biasa. Tapi, tidak bagi Randu.
“Kamu masih menyayangiku?” tanya Randu memecah heningnya malam itu. Ah, pertanyaan yang sama yang sudah sering ia lontarkan selama 4 tahun ini. Nina sudah bosan mendengar pertanyaan itu, terlebih lagi menjawabnya, karena ia malas jika harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang selalu sama, tak pernah berubah. “Kenapa kamu selalu menanyakan itu? Apa tidak cukup jawabanku ketika terakhir kali kamu menanyakannya?” Nina menegaskan. “Aku hanya selalu ingin tahu, apa hatimu sudah memutuskan untuk pergi atau tidak.” jawab Randu. “Jika aku menjawab iya, kenapa? Dan jika tidak juga kenapa? Apa dengan menjawab pertanyaan ini akan mengubah keadaan seperti semula, tidak bukan?” “Aku tahu, sudah kubilang aku hanya ingin selalu tahu kemana arah hatimu itu. Toh, aku selalu tahu jika kamu bicara jujur atau bohong” kata Randu sambil tersenyum. “Baiklah, ini akan menjadi jawabanku yang terakhir, aku tak mau menjawab pertanyaan yang sama lagi nantinya, jadi biar ku bungkam kamu dengan jawabanku ini.” Sejenak Nina terdiam, menarik nafas perlahan kemudian melanjutkan kata-katanya “Tidak! Aku tidak masih menyayangimu. Tapi aku selalu menyayangimu, apapun yang terjadi. Dan jawaban ini berlaku untuk seumur hidupku, juga seumur hidupmu. Jadi jangan pernah kau tanyakan lagi. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku sudah menjalaninya dengan orang lain, dan kamupun sudah menjalaninya dengan Asri. Terkadang, sekuat apapun kita berharap akan sesuatu, keadaan tidak selalu berpihak.” Kemudian Randu berkata “Iya aku tahu. Sudah, jawaban itu sudah cukup membungkamku. Aku akan ingat seumur hidupku.” Randu mengakhiri katanya dengan tersenyum. Malam itu memang merupakan pertemuan yang kesekian kalinya. Tapi untuk pertama kalinya, mereka berbicara lepas tanpa emosi dan tanpa dikuasai oleh ego masing-masing. Layaknya dua orang asing yang sudah mengenal jauh satu sama lain.
Dan bagi Nina, Randu adalah seseorang yang selalu bisa mengacaukan hatinya, dalam keadaan apapun.


No comments:

Post a Comment