Malam itu terasa dingin, namun sejuk.
Dua orang insan duduk dengan kepala menengadah ke atas, ke arah langit. Lukisan
langit malam saat itu terlihat sangat indah, bintang-bintang memperlihatkan
kilauan senyumnya. Keduanya duduk menempel dengan tanah, hanya beralaskan
sebuah tikar lusuh. Seorang gadis dan seorang pemuda itu terus menatapi langit,
menikmati keindahan yang tak bisa di dapatkan di pagi dan siang harinya. Gadis
itu bernama Nina, memakai jumper
berwarna abu gelap dengan bertuliskan merk sebuah brand di bagian depannya, memakai celana jeans panjang dan sneaker kesayangannya, rambutnya panjang
sebahu dan dibiarkan terurai. Sedangkan pemuda itu bernama Randu, bergaya
tengil, memakai celana jeans pendek, shirt
berwarna hitam, rambut yang sedikit acak-acakan, di telinga kirinya tertindik
sebuah anting perak kecil, dan kedua lengannya memeluk gitar, gitar kesayangan
yang sudah menjadi sahabat baiknya selama bertahun-tahun.
Suasana
hening, hanya terdengar suara kumbang dan binatang malam. Pemuda itu mulai
memetik gitarnya, sampai kemudian mengalun rentetan nada, dia memainkan sebuah
lagu. Nina terhenyuk, terdiam tapi mendengarkan. Lagu itu tak asing baginya.
Randu mulai bernyanyi, bait pertama. Nina terlihat mengikuti, tidak terdengar
memang tapi mulutnya bergerak tepat mengikuti lirik lagu itu. Yah, itu lagu
yang dibuatkan Randu untuknya, 4 tahun yang lalu. Lagu sebagai lambang perjuangannya
mengejar cintanya. Ah, kenangan yang manis 4 tahun yang lalu, masih terlintas
jelas dipikirannya. Saat masih memakai seragam putih abu-abu adalah masa untuk
mereka berdua dulu, sebagai sepasang kekasih. Tapi saat ini, mereka duduk berdua
hanya sebagai teman biasa.
4 tahun setelah berpisah, malam itu
bukan kali pertamanya mereka bertemu. Mereke sering bertemu dalam beberapa
kesempatan, terlebih lagi saat para teman dekat mengadakan sebuah acara.
Kebanyakan teman-teman dekat dari Randu juga merupakan teman-teman dekat Nina.
Tak jarang mereka terlibat dalam pembicaraan yang menyangkut masalah mereka 4
tahun yang lalu. Pertengkaranpun sering terjadi hanya karena masalah yang
itu-itu saja. Namun tak butuh waktu yang lama juga untuk berbaikan lagi. Bagi
Nina, Randu adalah seseorang yang benar-benar mengerti dirinya, mengetahui
sifat baik dan jeleknya, tahu kapan ia berbicara jujur dan bohong, dia orang
yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri dan dia adalah orang ternyaman
baginya. Ia sendiri selalu bertanya, mengapa bisa melepasnya dulu, tanpa
alasan, tanpa kesalahan. Pikirannya terlalu naïf, pendek. Beranggapan bahwa
semua perhatian yang berlebih itu adalah suatu keposesifan, terlalu mengekang.
Dia baru menyadari bahwa anggapan itu salah setelah kepergian Randu. Pun ia
ikut menyadari betapa ia sangat menyayanginya. Tapi sudahlah, keadaan tak bisa
selalu kita raih dengan semudah membalikkan telapak tangan. Kini, ia bisa
menerima semua itu dan menjalaninya hanya sebagai teman biasa. Tapi, tidak bagi
Randu.
“Kamu masih menyayangiku?” tanya Randu
memecah heningnya malam itu. Ah, pertanyaan yang sama yang sudah sering ia
lontarkan selama 4 tahun ini. Nina sudah bosan mendengar pertanyaan itu,
terlebih lagi menjawabnya, karena ia malas jika harus menjawab pertanyaan itu
dengan jawaban yang selalu sama, tak pernah berubah. “Kenapa kamu selalu menanyakan
itu? Apa tidak cukup jawabanku ketika terakhir kali kamu menanyakannya?” Nina
menegaskan. “Aku hanya selalu ingin tahu, apa hatimu sudah memutuskan untuk pergi
atau tidak.” jawab Randu. “Jika aku menjawab iya, kenapa? Dan jika tidak juga
kenapa? Apa dengan menjawab pertanyaan ini akan mengubah keadaan seperti
semula, tidak bukan?” “Aku tahu, sudah kubilang aku hanya ingin selalu tahu
kemana arah hatimu itu. Toh, aku selalu tahu jika kamu bicara jujur atau
bohong” kata Randu sambil tersenyum. “Baiklah, ini akan menjadi jawabanku yang
terakhir, aku tak mau menjawab pertanyaan yang sama lagi nantinya, jadi biar ku
bungkam kamu dengan jawabanku ini.” Sejenak Nina terdiam, menarik nafas
perlahan kemudian melanjutkan kata-katanya “Tidak! Aku tidak masih
menyayangimu. Tapi aku selalu menyayangimu, apapun yang terjadi. Dan jawaban
ini berlaku untuk seumur hidupku, juga seumur hidupmu. Jadi jangan pernah kau
tanyakan lagi. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku sudah menjalaninya
dengan orang lain, dan kamupun sudah menjalaninya dengan Asri. Terkadang,
sekuat apapun kita berharap akan sesuatu, keadaan tidak selalu berpihak.”
Kemudian Randu berkata “Iya aku tahu. Sudah, jawaban itu sudah cukup
membungkamku. Aku akan ingat seumur hidupku.” Randu mengakhiri katanya dengan
tersenyum. Malam itu memang merupakan pertemuan yang kesekian kalinya. Tapi
untuk pertama kalinya, mereka berbicara lepas tanpa emosi dan tanpa dikuasai
oleh ego masing-masing. Layaknya dua orang asing yang sudah mengenal jauh satu
sama lain.
Dan bagi Nina, Randu adalah seseorang
yang selalu bisa mengacaukan hatinya, dalam keadaan apapun.
No comments:
Post a Comment