September 8, 2013

Percakapan Dua Ekor Burung



Angin bertiup begitu lembut, daun-daun dari rindangnya pohon berjatuhan seirama dengan pergerakan angin. Siang itu terik matahari sangat menyengat. Tapi panasnya sedikit terhalau oleh lembutnya hembusan angin.
Tak jauh dari tempat itu, sebuah pohon besar berdiri tegak. Daunnya lebat dan hijau, dahan dan ranting pohon terlihat begitu kokoh. Di salah satu rantingnya, hinggaplah dua ekor burung, Ici dan Nuri. Burung berjenis kenari yang mungil dan berwarna cerah. Seorang burung yang bernama Ici membuka percakapan.
“Kamu sudah terbang kemana saja Nuri?”
“Tak jauh dari tempat ini, terik matahari sangat menyengat” kata Nuri sambil meregangkan sayapnya.
“Sama sepertiku. Jika cuaca terik begini, aku malas terbang tinggi.”
“Tapi diam di dahan pohon seperti ini juga membosankan bukan?” sanggah Nuri.
“Iya.” Ici diam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya “Kamu tahu, kadang jika aku bosan, aku selalu membayangkan menjadi benda lain di dunia ini, yang bisa berguna bagi semua orang.”
“Maksud kamu, kamu menyesal menjadi seperti sekarang ini?” tanya Nuri lancing.
“Tentu tidak, aku hanya membayangkan saja.”
“Oh, memangnya kamu membayangkan dirimu menjadi apa Ici?”
“Terkadang aku membayangkan diriku menjadi sebuah bintang” jawab Ici sambil menyunggingkan senyumnya.
Sesaat Nuri seperti berpikir, lalu berkata “Tapi, bintang kan hanya setia pada malam.” Sanggahnya.
Ici terdiam, berpikir sejenak “Kalau begitu, aku ingin menjadi matahari saja” lanjutnya. Tapi Nuri kemudian menyanggah lagi “Matahari hanya menyapa pagi, lalu tenggelam bersama senja.” Ici mengerutkan dahinya, mencoba berpikir kembali.
“Bagaimana kalau menjadi angin, sejuk seperti sekarang ini?” tanya Ici. Lagi-lagi Nuri menyanggah “Tapi angin tidak diam di satu tempat, dia hanya menghampiri lalu kemudian pergi lagi.”
Ici tampak berpikir keras lagi. “Ah, bagaimana jika menjadi awan, dia meneduhkan sekaligus bisa menjadi hujan yang membasahi bumi ini.” Dan untuk kesekian kalinya Nuri pun menyanggah lagi “Emm, memang, tapi awan tak pernah diam, selalu berjalan terbawa angin, dan hujan tidak selalu turun setiap kita butuhkan.”
“Lalu, menurutmu aku harus menjadi apa?” Nuri diam sejenak, dia melihat ke langit luas, pandangannya berkelilin g sejauh mata memandang. Kemudian dia melihat kebawahnya, tak lama senyumnya tersungging “jadilah seperti tanah, selalu berada di bawah, menjadi tempat berpijak, dia tidak muncul dan tidak juga hilang. Selalu ada, untuk menjadi sandaran. Bahkan jika terbang tinggi sekalipun, tentu kita tak pernah lupa untuk melihat ke bawah bukan? Ketika lelah, kita selalu bersandar pada tanah. Begitupun mereka yang hidup dibawah sana. Tanah juga menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, mikrobakteri dan teman-temannya.”
“Kamu benar Nuri. Baiklah, kalau begitu aku ingin menjadi tanah, yang selalu menjadi sandaran.”
Kemudian kedua burung itupun larut dalam percakapan hangat mereka hingga matahari bersembunyi di balik senja.