November 14, 2013

Separah Apa keGALAUanmu?



“Tanpamu aku galaaauuuuu” kata slogan sebuah commercial break. Nah, mengacu pada kata “galau” dalam slogan tersebut, sepertinya sudah sering di dengar dimana aja. Di jejaring sosial, status dari kebanyakan para pelaku jejaring itu temanya GALAU semua, sampai- sampai di kala aku buka akun seperti melihat drama di dalamnya hadeeewh. Berbagai macam keluhan yang bertema galau menjadi topik hampir setiap harinya. Ada yang tingkat kegalauannya bisa di vonis sebagai galau kronis. Cuma terkadang aku sering asik sendiri membaca status-status galau gak jelas itu sambil ketawa-ketawa sendiri.  Galau yang notabene-nya berupa pikiran yang kacau emang gak jauh jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada yang galau karena inilah, itulah, begini dan begitulah. Ampuuuuun, emang sudah gak ada yang bisa dipikirkan ya selain kegalauan itu.
Galau menurutku punya tingkatan, dari yang cuma gejala aja sampai yang kronis sekalipun. Galau udah seperti semacam penyakit yang mendarah daging pada orang-orang yang gak tau mana yang harus dia jalani dan dia pilih. Baik, dimulai dari galau yang berupa gejala, ibaratnya kamu bingung untuk memilih mau membeli yang mana. Ketika berada disebuah toko buku, dimana rencana awalnya ingin membeli buku ilmu pengetahuan semacam rumus matematika, fisika, sejarah, dsb sebagai pedoman belajar, eh malah berhenti disebuah rak  yang menyimpan deretan novel dan komik. Tergiur melihat cover depan yang dibuat seunik dan se-colorful mungkin demi menarik minat pembaca. Dengan asiknya kamu bela-belain melihat satu persatu novel-novel dan komik itu, lah gimana dengan rencana awal kamu yang ingin membeli buku ilmu pengetahuan? Jejeritan sendiri karena tertarik sama ringkasan sinopsis novel yang terpampang di belakangnya, yang dimana tema-temanya masalah percintaan remaja, menyangkut ke-galau-an pula. Setelah itu jadi menimbang-nimbang, dengan tidak bijaksana malah berpikiran “Ah, baca ini lebih seru, ntar buku pelajarannya foto copy punya teman aja.” Koplak, tau begitu ngapain mesti bela-belain ke toko buku. Hal yang serupa bisa terjadi juga kalau kamu sedang berada di pusat perbelanjaan yang besar banget, atau istilah gaulnya nge-mall. Secara, disana tersedia berbagai macam outlet-outlet mulai dari baju, sepatu, tas, aksesoris yang ber-merk nama-nama asing. Masuk ke outlet yang satu, ngeliatin itu baju-baju berwarna-warni dengan berbagai macam model yang sebenarnya uda gak jelas apa itu bisa disebut sebagai baju, robek sana-sini, kekurangan bahanlah, dsb. Tangan kiri comot model ini, tangan kanan comot model yang lain, ketika mata kemudian melirik outlet disebelah yang di jejeri tas-tas import, itu baju-baju di balikin lagi ke tempat semula, hilang seketika hasrat untuk membeli baju, lalu milih-milih tas yang juga modelnya bervariasi. Nyobain tas-tas itu sambil ngaca, entah modelnya cangklongan lah, ransel lah, atau Cuma di tenteng pakai tangan. Lalu, melirik ke toko di depannya, berjejer sepatu-sepatu, sepatu sandal dan sandal-sandal. Dan hasrat ingin membeli taspun juga pudar. Beralih sekarang nyobain satu-satu itu semua alas kaki. Yang paling buat aku terheran-heran, bahkan sandal jepit pun punya  merk, dan harganya hampir sebanding dengan harga baju yang ber-merk, gilaaa! Sandal jepit aja harganya selangit, buat dari sisa-sisa karet juga bisa hahaha. Setelah lama dan sudah nyobain satu-persatu tiba-tiba niatan buat beli juga hilang, efek kebanyakan nyoba item satu persatu. Ngerasa bosen, lalu pulang. Kemudian sampai rumah baru nyadar kalau hasil nge-mall tadi malah gak ada, gak beli satu item pun. Karena kegalauan tadi, bingung mau beli yang mana, kalau cuma beli baju, harus matching sama tas dan sepatunya dong, tapi kalau beli semua dompetku malah muntah. Alhasil, gak dapet apa-apa dech! Tapi untungnya galau ini cuma termasuk ke dalam kategori gejala, jadi masih bisa disembuhkan. Caranya? Berpikir hematlah, daripada duit kalian habis buat belanja barang yang sebenarnya gak terlalu penting which is kalian melakukannya hanya karena ingin mengikuti mode dan terlebih lagi gengsi, mending duitnya ditabung aja. Trus, kalo belum kepikiran pengen beli barang apa, mending gak usah nge-mall daripada ntar disana galau, bingung mau beli apaan.
Galau tingkat kronis, dimenangkan oleh kategori ‘gak bisa ngelupain’, atau belum bisa move-on karena tu bayangan sang mantan masih nari hula-hula di pikiran kamu. Well, sepertinya hal ini sudah jadi masalah tergalau bagi para remaja baik cewek maupun cowok. Haha, semua yang berkaitan dengan cinta memang  bisa menghasilkan kegalauan. Terlebih lagi karena makhluk ‘bekas’ yang diberi nama mantan ini. Seorang mantan memiliki andil besar dalam gerak-gerik dan tingkah laku kamu, terkadang seseorang yang belum bisa melupakan mantannya kemungkinan akan berusaha untuk mencari sosok cowok/cewek idaman yang hampir atau mungkin kalo bisa memang benar-benar mirip mantannya, entah itu cara berpakaian, potongan rambut, parfum, hobi, sampai cara berjalan ato bahkan cara bernafasnya?,,,oh my god, come on! Orang itu gak terlahir kembar seribu ckckckck. Versi lainnya adalah ketika setiap orang yang memiliki kemiripan dalam hal fisik ataupun kebiasaan pasti dikecengin ato paling gak dipantengin trus tuh orang, hasil dari keinget mantan. Lalu, yang harus disalahkan disini siapa? Sang mantan yang punya aura yang na’ujubillah sampai bisa buat mantannya tetep aja terpesona walaupun uda gak bareng dia lagi atau mereka aja yang lebay mengingat mantannya dan berpikiran kalau dunia mereka bakalan abis kalau gak balikan lagi sama mantan mereka. Hello, trus bagaimana nasib mereka yang punya hak untuk didekati namun tidak dilihat dan dibanding-bandingkan dengan sang mantan. Sepertinya masalah galau karena ingat mengingat mantan ini sudah masuk ke dalam masalah kriminal dalam area percintaan, mau curhat sama dewi amor, sang dewi lagi sibuk terbang sambil manah di langit ketujuh wuehehehe. Mau curhat sama Tuhan, takut dibilang lebay, makhluk Tuhan yang bernama cewek dan cowok kan gak cuma satu cuy. Jadi, disini perlu dihimbaukan lagi buat kalian-kalian dan mereka in place, somewhere jangan bebani pikiranmu dengan masalah pemantanan ini, apalagi menyia-nyiakan sebagian hidup kamu cuma untuk mengingat dan menyesali kisah kasih gagalmu bersama mantan. Masih banyak lah cewek/cowok di luar sana yang sedang menanti untuk dipungut, dipungut dengan kasih sayang kemudian dirawat dengan cinta. Please, jangan melebaykan hidup kalian, dan jangan pasung harapan serta mimpi kalian dengan kegalauan. Ini nih yang namanya galau kronis, jarang bisa disembuhkan karena keteledoran dari orang itu sendiri.

September 8, 2013

Percakapan Dua Ekor Burung



Angin bertiup begitu lembut, daun-daun dari rindangnya pohon berjatuhan seirama dengan pergerakan angin. Siang itu terik matahari sangat menyengat. Tapi panasnya sedikit terhalau oleh lembutnya hembusan angin.
Tak jauh dari tempat itu, sebuah pohon besar berdiri tegak. Daunnya lebat dan hijau, dahan dan ranting pohon terlihat begitu kokoh. Di salah satu rantingnya, hinggaplah dua ekor burung, Ici dan Nuri. Burung berjenis kenari yang mungil dan berwarna cerah. Seorang burung yang bernama Ici membuka percakapan.
“Kamu sudah terbang kemana saja Nuri?”
“Tak jauh dari tempat ini, terik matahari sangat menyengat” kata Nuri sambil meregangkan sayapnya.
“Sama sepertiku. Jika cuaca terik begini, aku malas terbang tinggi.”
“Tapi diam di dahan pohon seperti ini juga membosankan bukan?” sanggah Nuri.
“Iya.” Ici diam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya “Kamu tahu, kadang jika aku bosan, aku selalu membayangkan menjadi benda lain di dunia ini, yang bisa berguna bagi semua orang.”
“Maksud kamu, kamu menyesal menjadi seperti sekarang ini?” tanya Nuri lancing.
“Tentu tidak, aku hanya membayangkan saja.”
“Oh, memangnya kamu membayangkan dirimu menjadi apa Ici?”
“Terkadang aku membayangkan diriku menjadi sebuah bintang” jawab Ici sambil menyunggingkan senyumnya.
Sesaat Nuri seperti berpikir, lalu berkata “Tapi, bintang kan hanya setia pada malam.” Sanggahnya.
Ici terdiam, berpikir sejenak “Kalau begitu, aku ingin menjadi matahari saja” lanjutnya. Tapi Nuri kemudian menyanggah lagi “Matahari hanya menyapa pagi, lalu tenggelam bersama senja.” Ici mengerutkan dahinya, mencoba berpikir kembali.
“Bagaimana kalau menjadi angin, sejuk seperti sekarang ini?” tanya Ici. Lagi-lagi Nuri menyanggah “Tapi angin tidak diam di satu tempat, dia hanya menghampiri lalu kemudian pergi lagi.”
Ici tampak berpikir keras lagi. “Ah, bagaimana jika menjadi awan, dia meneduhkan sekaligus bisa menjadi hujan yang membasahi bumi ini.” Dan untuk kesekian kalinya Nuri pun menyanggah lagi “Emm, memang, tapi awan tak pernah diam, selalu berjalan terbawa angin, dan hujan tidak selalu turun setiap kita butuhkan.”
“Lalu, menurutmu aku harus menjadi apa?” Nuri diam sejenak, dia melihat ke langit luas, pandangannya berkelilin g sejauh mata memandang. Kemudian dia melihat kebawahnya, tak lama senyumnya tersungging “jadilah seperti tanah, selalu berada di bawah, menjadi tempat berpijak, dia tidak muncul dan tidak juga hilang. Selalu ada, untuk menjadi sandaran. Bahkan jika terbang tinggi sekalipun, tentu kita tak pernah lupa untuk melihat ke bawah bukan? Ketika lelah, kita selalu bersandar pada tanah. Begitupun mereka yang hidup dibawah sana. Tanah juga menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, mikrobakteri dan teman-temannya.”
“Kamu benar Nuri. Baiklah, kalau begitu aku ingin menjadi tanah, yang selalu menjadi sandaran.”
Kemudian kedua burung itupun larut dalam percakapan hangat mereka hingga matahari bersembunyi di balik senja.