November 14, 2013

Separah Apa keGALAUanmu?



“Tanpamu aku galaaauuuuu” kata slogan sebuah commercial break. Nah, mengacu pada kata “galau” dalam slogan tersebut, sepertinya sudah sering di dengar dimana aja. Di jejaring sosial, status dari kebanyakan para pelaku jejaring itu temanya GALAU semua, sampai- sampai di kala aku buka akun seperti melihat drama di dalamnya hadeeewh. Berbagai macam keluhan yang bertema galau menjadi topik hampir setiap harinya. Ada yang tingkat kegalauannya bisa di vonis sebagai galau kronis. Cuma terkadang aku sering asik sendiri membaca status-status galau gak jelas itu sambil ketawa-ketawa sendiri.  Galau yang notabene-nya berupa pikiran yang kacau emang gak jauh jauh dari kehidupan sehari-hari. Ada yang galau karena inilah, itulah, begini dan begitulah. Ampuuuuun, emang sudah gak ada yang bisa dipikirkan ya selain kegalauan itu.
Galau menurutku punya tingkatan, dari yang cuma gejala aja sampai yang kronis sekalipun. Galau udah seperti semacam penyakit yang mendarah daging pada orang-orang yang gak tau mana yang harus dia jalani dan dia pilih. Baik, dimulai dari galau yang berupa gejala, ibaratnya kamu bingung untuk memilih mau membeli yang mana. Ketika berada disebuah toko buku, dimana rencana awalnya ingin membeli buku ilmu pengetahuan semacam rumus matematika, fisika, sejarah, dsb sebagai pedoman belajar, eh malah berhenti disebuah rak  yang menyimpan deretan novel dan komik. Tergiur melihat cover depan yang dibuat seunik dan se-colorful mungkin demi menarik minat pembaca. Dengan asiknya kamu bela-belain melihat satu persatu novel-novel dan komik itu, lah gimana dengan rencana awal kamu yang ingin membeli buku ilmu pengetahuan? Jejeritan sendiri karena tertarik sama ringkasan sinopsis novel yang terpampang di belakangnya, yang dimana tema-temanya masalah percintaan remaja, menyangkut ke-galau-an pula. Setelah itu jadi menimbang-nimbang, dengan tidak bijaksana malah berpikiran “Ah, baca ini lebih seru, ntar buku pelajarannya foto copy punya teman aja.” Koplak, tau begitu ngapain mesti bela-belain ke toko buku. Hal yang serupa bisa terjadi juga kalau kamu sedang berada di pusat perbelanjaan yang besar banget, atau istilah gaulnya nge-mall. Secara, disana tersedia berbagai macam outlet-outlet mulai dari baju, sepatu, tas, aksesoris yang ber-merk nama-nama asing. Masuk ke outlet yang satu, ngeliatin itu baju-baju berwarna-warni dengan berbagai macam model yang sebenarnya uda gak jelas apa itu bisa disebut sebagai baju, robek sana-sini, kekurangan bahanlah, dsb. Tangan kiri comot model ini, tangan kanan comot model yang lain, ketika mata kemudian melirik outlet disebelah yang di jejeri tas-tas import, itu baju-baju di balikin lagi ke tempat semula, hilang seketika hasrat untuk membeli baju, lalu milih-milih tas yang juga modelnya bervariasi. Nyobain tas-tas itu sambil ngaca, entah modelnya cangklongan lah, ransel lah, atau Cuma di tenteng pakai tangan. Lalu, melirik ke toko di depannya, berjejer sepatu-sepatu, sepatu sandal dan sandal-sandal. Dan hasrat ingin membeli taspun juga pudar. Beralih sekarang nyobain satu-satu itu semua alas kaki. Yang paling buat aku terheran-heran, bahkan sandal jepit pun punya  merk, dan harganya hampir sebanding dengan harga baju yang ber-merk, gilaaa! Sandal jepit aja harganya selangit, buat dari sisa-sisa karet juga bisa hahaha. Setelah lama dan sudah nyobain satu-persatu tiba-tiba niatan buat beli juga hilang, efek kebanyakan nyoba item satu persatu. Ngerasa bosen, lalu pulang. Kemudian sampai rumah baru nyadar kalau hasil nge-mall tadi malah gak ada, gak beli satu item pun. Karena kegalauan tadi, bingung mau beli yang mana, kalau cuma beli baju, harus matching sama tas dan sepatunya dong, tapi kalau beli semua dompetku malah muntah. Alhasil, gak dapet apa-apa dech! Tapi untungnya galau ini cuma termasuk ke dalam kategori gejala, jadi masih bisa disembuhkan. Caranya? Berpikir hematlah, daripada duit kalian habis buat belanja barang yang sebenarnya gak terlalu penting which is kalian melakukannya hanya karena ingin mengikuti mode dan terlebih lagi gengsi, mending duitnya ditabung aja. Trus, kalo belum kepikiran pengen beli barang apa, mending gak usah nge-mall daripada ntar disana galau, bingung mau beli apaan.
Galau tingkat kronis, dimenangkan oleh kategori ‘gak bisa ngelupain’, atau belum bisa move-on karena tu bayangan sang mantan masih nari hula-hula di pikiran kamu. Well, sepertinya hal ini sudah jadi masalah tergalau bagi para remaja baik cewek maupun cowok. Haha, semua yang berkaitan dengan cinta memang  bisa menghasilkan kegalauan. Terlebih lagi karena makhluk ‘bekas’ yang diberi nama mantan ini. Seorang mantan memiliki andil besar dalam gerak-gerik dan tingkah laku kamu, terkadang seseorang yang belum bisa melupakan mantannya kemungkinan akan berusaha untuk mencari sosok cowok/cewek idaman yang hampir atau mungkin kalo bisa memang benar-benar mirip mantannya, entah itu cara berpakaian, potongan rambut, parfum, hobi, sampai cara berjalan ato bahkan cara bernafasnya?,,,oh my god, come on! Orang itu gak terlahir kembar seribu ckckckck. Versi lainnya adalah ketika setiap orang yang memiliki kemiripan dalam hal fisik ataupun kebiasaan pasti dikecengin ato paling gak dipantengin trus tuh orang, hasil dari keinget mantan. Lalu, yang harus disalahkan disini siapa? Sang mantan yang punya aura yang na’ujubillah sampai bisa buat mantannya tetep aja terpesona walaupun uda gak bareng dia lagi atau mereka aja yang lebay mengingat mantannya dan berpikiran kalau dunia mereka bakalan abis kalau gak balikan lagi sama mantan mereka. Hello, trus bagaimana nasib mereka yang punya hak untuk didekati namun tidak dilihat dan dibanding-bandingkan dengan sang mantan. Sepertinya masalah galau karena ingat mengingat mantan ini sudah masuk ke dalam masalah kriminal dalam area percintaan, mau curhat sama dewi amor, sang dewi lagi sibuk terbang sambil manah di langit ketujuh wuehehehe. Mau curhat sama Tuhan, takut dibilang lebay, makhluk Tuhan yang bernama cewek dan cowok kan gak cuma satu cuy. Jadi, disini perlu dihimbaukan lagi buat kalian-kalian dan mereka in place, somewhere jangan bebani pikiranmu dengan masalah pemantanan ini, apalagi menyia-nyiakan sebagian hidup kamu cuma untuk mengingat dan menyesali kisah kasih gagalmu bersama mantan. Masih banyak lah cewek/cowok di luar sana yang sedang menanti untuk dipungut, dipungut dengan kasih sayang kemudian dirawat dengan cinta. Please, jangan melebaykan hidup kalian, dan jangan pasung harapan serta mimpi kalian dengan kegalauan. Ini nih yang namanya galau kronis, jarang bisa disembuhkan karena keteledoran dari orang itu sendiri.

September 8, 2013

Percakapan Dua Ekor Burung



Angin bertiup begitu lembut, daun-daun dari rindangnya pohon berjatuhan seirama dengan pergerakan angin. Siang itu terik matahari sangat menyengat. Tapi panasnya sedikit terhalau oleh lembutnya hembusan angin.
Tak jauh dari tempat itu, sebuah pohon besar berdiri tegak. Daunnya lebat dan hijau, dahan dan ranting pohon terlihat begitu kokoh. Di salah satu rantingnya, hinggaplah dua ekor burung, Ici dan Nuri. Burung berjenis kenari yang mungil dan berwarna cerah. Seorang burung yang bernama Ici membuka percakapan.
“Kamu sudah terbang kemana saja Nuri?”
“Tak jauh dari tempat ini, terik matahari sangat menyengat” kata Nuri sambil meregangkan sayapnya.
“Sama sepertiku. Jika cuaca terik begini, aku malas terbang tinggi.”
“Tapi diam di dahan pohon seperti ini juga membosankan bukan?” sanggah Nuri.
“Iya.” Ici diam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya “Kamu tahu, kadang jika aku bosan, aku selalu membayangkan menjadi benda lain di dunia ini, yang bisa berguna bagi semua orang.”
“Maksud kamu, kamu menyesal menjadi seperti sekarang ini?” tanya Nuri lancing.
“Tentu tidak, aku hanya membayangkan saja.”
“Oh, memangnya kamu membayangkan dirimu menjadi apa Ici?”
“Terkadang aku membayangkan diriku menjadi sebuah bintang” jawab Ici sambil menyunggingkan senyumnya.
Sesaat Nuri seperti berpikir, lalu berkata “Tapi, bintang kan hanya setia pada malam.” Sanggahnya.
Ici terdiam, berpikir sejenak “Kalau begitu, aku ingin menjadi matahari saja” lanjutnya. Tapi Nuri kemudian menyanggah lagi “Matahari hanya menyapa pagi, lalu tenggelam bersama senja.” Ici mengerutkan dahinya, mencoba berpikir kembali.
“Bagaimana kalau menjadi angin, sejuk seperti sekarang ini?” tanya Ici. Lagi-lagi Nuri menyanggah “Tapi angin tidak diam di satu tempat, dia hanya menghampiri lalu kemudian pergi lagi.”
Ici tampak berpikir keras lagi. “Ah, bagaimana jika menjadi awan, dia meneduhkan sekaligus bisa menjadi hujan yang membasahi bumi ini.” Dan untuk kesekian kalinya Nuri pun menyanggah lagi “Emm, memang, tapi awan tak pernah diam, selalu berjalan terbawa angin, dan hujan tidak selalu turun setiap kita butuhkan.”
“Lalu, menurutmu aku harus menjadi apa?” Nuri diam sejenak, dia melihat ke langit luas, pandangannya berkelilin g sejauh mata memandang. Kemudian dia melihat kebawahnya, tak lama senyumnya tersungging “jadilah seperti tanah, selalu berada di bawah, menjadi tempat berpijak, dia tidak muncul dan tidak juga hilang. Selalu ada, untuk menjadi sandaran. Bahkan jika terbang tinggi sekalipun, tentu kita tak pernah lupa untuk melihat ke bawah bukan? Ketika lelah, kita selalu bersandar pada tanah. Begitupun mereka yang hidup dibawah sana. Tanah juga menjadi tempat tumbuhnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, mikrobakteri dan teman-temannya.”
“Kamu benar Nuri. Baiklah, kalau begitu aku ingin menjadi tanah, yang selalu menjadi sandaran.”
Kemudian kedua burung itupun larut dalam percakapan hangat mereka hingga matahari bersembunyi di balik senja.

May 10, 2012

Kalian yang Unik…


Punya teman banyak adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan untuk kita. Bayangkan jika kalian tidak memiliki teman sama sekali. Teman yang banyak, secara tidak langsung menyuguhkan banyak koneksi pada hal-hal lain, tak menutup kemungkinan juga  bahwa punya teman banyak akan mengantarkan kita untuk lebih banyak mengenal orang-orang baru. Layaknya sebuah rantai makanan.
Teman-temanku, bisa dibilang tak sedikit, tapi juga tak banyak. Yang jelas, mereka semua orang-orang yang berbeda dan memiliki keunikannya sendiri. Kebanyakan dari mereka aku kenal karena dikenalkan juga oleh temanku. Walaupun terkadang tidak semua orang yang baru kita kenal bisa dikatakan teman. Tapi, aku lebih suka mengganggapnya begitu, teman adalah orang yang kita kenal terlepas dari sudah berapa lama kita mengenal mereka. Aku tak pernah melupakan orang-orang yang aku temui selama perjalanan hidup ini.
Teman-temanku, tak sama semuanya. Mereka punya perbedaan, yang kemudian aku sebut sebagai keunikan. Unik itu adalah suatu hal yang orang miliki, yang tak dimiliki orang lain. Karena memang perbedaan di antara kita semua membuat suatu keunikan dalam diri. Sudah bertahun-tahun berlalu, sudah memperkenalkanku pada teman-teman baru dengan segala keunikan mereka. Ada yang polos, kolot, humoris, sangat perhatian, dan aku suka. Ada juga yang keras kepala, selalu mementingkan diri sendiri, cerewet, kadang menyebalkan, tapi aku tetap suka. Entahlah, mungkin karena aku tak selalu mengganggap bahwa keburukan seorang teman adalah sesuatu yang jelek dan haram. Terlalu tabu jika beranggapan seperti itu. Belum tentu juga sifat kita yang kita anggap baik adalah sesuatu yang baik bagi mereka. Ada yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, bahkan dari ujung timur Indonesia yaitu Papua. Ciri khas dari daerah mereka adalah keunikan tersendiri. Ada juga beberapa dari mereka yang memiliki hobi yang sama, sehingga mudah untuk berbagi, tapi ada juga yang punya selera berbeda, namun itu tetap merupakan suatu keuntungan buatku, berbagi hal yang belum pernah aku ketahui adalah pengalaman dan ilmu baru untukku.
Kisah-kisah hidup mereka menjadi inspirasi buatku, salah satunya kutumpahkan dalam  tulisan singkat ini. Sebagian dari mereka ada yang menyukai sastra, sama sepertiku. Senang bisa berbagi informasi tentang para tokoh yang kita sukai, referensi novel yang patut untuk dibaca, pusisi-puisi yang menyentuh hati. Ada pula yang menyukai linguistik, dengan mereka aku berbagi tentang berbagai bahasa di dunia. Namun, ada juga beberapa dari mereka yang lebih senang berhura-hura, belanja sana belanja sini menghabiskan uang. Keras kepala dan terkadang lebih mementingkan diri sendiri. Tapi bukan berarti keburukan mereka itu aku nilai sebagai sesuatu yang harus dihindari, terkadang mereka juga memiliki sisi baik dalam diri mereka. Contohnya seperti seorang temanku yang bernama Kamila, dia berasal dari keluarga kaya, orang tuanya adalah seorang pengusaha sukses. Dia manja, selalu bergantung pada orang tua, kebiasaan menghambur-hamburkan uang tak pernah bisa ia tinggalkan, selalu belanja barang bermerk, tak pernah bisa bertahan lama dalam suatu hubungan percintaan yang menyebabkan ia sering gonta ganti pasangan. Tapi hal itu lalu tidak membuatku menilai dia dengan sebelah mata, jauh dalam dirinya, dia masih punya satu sisi baik, dia selalu bisa buatku tertawa kala kita berbicara akrab, selalu membantu jika aku susah. Nah, tidak semua keburukan itu bisa digunakan untuk menilai baik buruknya seseorang.
Kasus lainnya, beberapa minggu yang lalu aku mengenal teman baru yang bernama Sinta. Seorang transgender, dia berjenis kelamin laki-laki awalnya, tapi seiring perkembangan psikologinya, dia merasa bahwa sosok permpuan dalam dirinya lebih mendominasai sehingga dia memutuskan untuk berpindah dari laki-laki menjadi perempuan. Untungnya, aku adalah orang yang open-minded, tak ada hak untukku menilai dia, biar itu menjadi urusannya dengan Tuhan. Karena dalam berteman aku tak pernah melihat latar belakang mereka, selama mereka nyaman dan tulus untuk berteman, kenapa tidak?.
Beberapa minggu yang lalu, aku berkenalan dengan seorang perempuan yang bernama Asti. Dia seorang lesbian, punya pacar perempuan. Gaya berpakaiannya mirip laki-laki seperti kebanyakan dari kaum seperti dia. Entah apa yang membuatnya berbelok ke arah itu, aku pun tak ingin bertanya lebih jauh, kembali lagi karena itu hak dia, urusan dia yang nantinya akan dia pertanggungjawabkan sendiri pada Tuhan. Kita tak perlu menilai seorang teman terlalu jauh, cukup nilai saja apakah kita nyaman berteman dengan mereka. Apa-apa yang menjadi keburukan mereka jangan ditiru, tapi tak lupa juga untuk menasehati, dan ambilah yang baik-baik dari mereka. Jangan pernah menilai seseorang jika kamu tak ingin dinilai.
Itu hanya sebagian cerita dari teman-temanku. Masih banyak lagi mereka dengan keunika-keunikan mereka, yang tak bisa aku ceritakan semua. Yang jelas, aku senang bisa bertemu dan mengenal mereka. Cerita dan kisah mereka telah mengajarkan banyak hal, melihat dan merasakan sesuatu yang tak pernah aku tahu sebelumnya. Mereka memperlihatkanku pada dunia luar. Membuatku merasa tak sendirian, dan melihat suatu hal tak hanya dari satu sisi. Apapun kebaikan dan keburukan mereka, semanis dan sepahit apapun kisah mereka selalu aku anggap sebagai suatu keunikan. Jangan jadikan keburukan itu menjadi dasar untuk menilai seseorang, ingat setiap manusia pasti memiliki dua sisi. Tergantung kita mau memilih mengikuti yang mana. Senang bisa bertemu dan mengenal kalian semua.

Nb : nama-nama yang ada dalam cerita adalah nama yang disamarkan.

April 18, 2012

Untuk Pertama Kalinya


Malam itu terasa dingin, namun sejuk. Dua orang insan duduk dengan kepala menengadah ke atas, ke arah langit. Lukisan langit malam saat itu terlihat sangat indah, bintang-bintang memperlihatkan kilauan senyumnya. Keduanya duduk menempel dengan tanah, hanya beralaskan sebuah tikar lusuh. Seorang gadis dan seorang pemuda itu terus menatapi langit, menikmati keindahan yang tak bisa di dapatkan di pagi dan siang harinya. Gadis itu bernama Nina, memakai jumper berwarna abu gelap dengan bertuliskan merk sebuah brand di bagian depannya, memakai celana jeans panjang dan sneaker kesayangannya, rambutnya panjang sebahu dan dibiarkan terurai. Sedangkan pemuda itu bernama Randu, bergaya tengil, memakai celana jeans pendek, shirt berwarna hitam, rambut yang sedikit acak-acakan, di telinga kirinya tertindik sebuah anting perak kecil, dan kedua lengannya memeluk gitar, gitar kesayangan yang sudah menjadi sahabat baiknya selama bertahun-tahun.
 Suasana hening, hanya terdengar suara kumbang dan binatang malam. Pemuda itu mulai memetik gitarnya, sampai kemudian mengalun rentetan nada, dia memainkan sebuah lagu. Nina terhenyuk, terdiam tapi mendengarkan. Lagu itu tak asing baginya. Randu mulai bernyanyi, bait pertama. Nina terlihat mengikuti, tidak terdengar memang tapi mulutnya bergerak tepat mengikuti lirik lagu itu. Yah, itu lagu yang dibuatkan Randu untuknya, 4 tahun yang lalu. Lagu sebagai lambang perjuangannya mengejar cintanya. Ah, kenangan yang manis 4 tahun yang lalu, masih terlintas jelas dipikirannya. Saat masih memakai seragam putih abu-abu adalah masa untuk mereka berdua dulu, sebagai sepasang kekasih. Tapi saat ini, mereka duduk berdua hanya sebagai teman biasa.
4 tahun setelah berpisah, malam itu bukan kali pertamanya mereka bertemu. Mereke sering bertemu dalam beberapa kesempatan, terlebih lagi saat para teman dekat mengadakan sebuah acara. Kebanyakan teman-teman dekat dari Randu juga merupakan teman-teman dekat Nina. Tak jarang mereka terlibat dalam pembicaraan yang menyangkut masalah mereka 4 tahun yang lalu. Pertengkaranpun sering terjadi hanya karena masalah yang itu-itu saja. Namun tak butuh waktu yang lama juga untuk berbaikan lagi. Bagi Nina, Randu adalah seseorang yang benar-benar mengerti dirinya, mengetahui sifat baik dan jeleknya, tahu kapan ia berbicara jujur dan bohong, dia orang yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri dan dia adalah orang ternyaman baginya. Ia sendiri selalu bertanya, mengapa bisa melepasnya dulu, tanpa alasan, tanpa kesalahan. Pikirannya terlalu naïf, pendek. Beranggapan bahwa semua perhatian yang berlebih itu adalah suatu keposesifan, terlalu mengekang. Dia baru menyadari bahwa anggapan itu salah setelah kepergian Randu. Pun ia ikut menyadari betapa ia sangat menyayanginya. Tapi sudahlah, keadaan tak bisa selalu kita raih dengan semudah membalikkan telapak tangan. Kini, ia bisa menerima semua itu dan menjalaninya hanya sebagai teman biasa. Tapi, tidak bagi Randu.
“Kamu masih menyayangiku?” tanya Randu memecah heningnya malam itu. Ah, pertanyaan yang sama yang sudah sering ia lontarkan selama 4 tahun ini. Nina sudah bosan mendengar pertanyaan itu, terlebih lagi menjawabnya, karena ia malas jika harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang selalu sama, tak pernah berubah. “Kenapa kamu selalu menanyakan itu? Apa tidak cukup jawabanku ketika terakhir kali kamu menanyakannya?” Nina menegaskan. “Aku hanya selalu ingin tahu, apa hatimu sudah memutuskan untuk pergi atau tidak.” jawab Randu. “Jika aku menjawab iya, kenapa? Dan jika tidak juga kenapa? Apa dengan menjawab pertanyaan ini akan mengubah keadaan seperti semula, tidak bukan?” “Aku tahu, sudah kubilang aku hanya ingin selalu tahu kemana arah hatimu itu. Toh, aku selalu tahu jika kamu bicara jujur atau bohong” kata Randu sambil tersenyum. “Baiklah, ini akan menjadi jawabanku yang terakhir, aku tak mau menjawab pertanyaan yang sama lagi nantinya, jadi biar ku bungkam kamu dengan jawabanku ini.” Sejenak Nina terdiam, menarik nafas perlahan kemudian melanjutkan kata-katanya “Tidak! Aku tidak masih menyayangimu. Tapi aku selalu menyayangimu, apapun yang terjadi. Dan jawaban ini berlaku untuk seumur hidupku, juga seumur hidupmu. Jadi jangan pernah kau tanyakan lagi. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku sudah menjalaninya dengan orang lain, dan kamupun sudah menjalaninya dengan Asri. Terkadang, sekuat apapun kita berharap akan sesuatu, keadaan tidak selalu berpihak.” Kemudian Randu berkata “Iya aku tahu. Sudah, jawaban itu sudah cukup membungkamku. Aku akan ingat seumur hidupku.” Randu mengakhiri katanya dengan tersenyum. Malam itu memang merupakan pertemuan yang kesekian kalinya. Tapi untuk pertama kalinya, mereka berbicara lepas tanpa emosi dan tanpa dikuasai oleh ego masing-masing. Layaknya dua orang asing yang sudah mengenal jauh satu sama lain.
Dan bagi Nina, Randu adalah seseorang yang selalu bisa mengacaukan hatinya, dalam keadaan apapun.


April 17, 2012

Gadis dalam Cermin


Sebuah kamar yang terbilang luas dengan tembok bercatkan warna pastel, warna favoritnya. Tidak banyak barang yang ada dalam kamar itu, sebuah ranjang ukuran  sedang, meja kecil, rak berisikan koleksi buku-bukunya, lemari, dan televisi. Salah satu view favoritnya dalam kamar itu adalah sebuah jendela yang langsung mengarah ke langit luas, dimana dia selalu menyaksikan setiap tetes air hujan yang jatuh, dimana dia selalu memperhatikan bintang pada lukisan langit malam, dan dimana dia sering melihat orang-orang berlalu lalang di jalanan. Dan sebuah cermin , tempat dimana dia sering memperhatikan dirinya sendiri.
Malam itu hening dan sepi, gadis itu hanya bertemankan sebuah kamar yang menjadi dunianya selama ini. Tempat ternyaman untuk berkeluh kesah tanpa harus ada yang menilai dari sudut pandang manapun. Tempat dia biasa bercerita tentang hari-hari yang sudah ia lalui. Kamar itu sudah menjadi pendengar yang baik selama bertahun-tahun, sebuah saksi bisu dari kisah-kisahnya. Jadwal yang padat menguras waktunya seharian itu, mengejar deadline penyerahan tugas akhir pada dosen pembimbingnya, mengerjakan sebagian kerjaan yang diterimanya sekedar untuk menyibukkan waktu. Menyita pikirannya dari penat dan hingar bingar yang selalu menari-nari. Memang menyenangkan jika dapat menghindari semua permasalahan meski hanya untuk sesaat sebelum semuanya teringat kembali dengan jelas ketika ia hanya sendiri dalam kamar itu, kesibukan itu mengundang lemas, letih dan lesu pada fisiknya.
Waktu sudah menjelang dini hari, diambilnya sebuah krim pelembab untuk wajahnya. Dia berjalan menuju cermin, mulai mempoles krim ke wajahnya. Selesai itu, dia belum beranjak dari depan cermin, dipandanginya sosok wajah yang ada dihadapannya. “Inikah diriku?” batinnya, tidak ada yang istimewa dari pandangannya. Kadang ia bertanya-tanya, apa sosok diseberang cermin itu mengalami hal-hal yang sama seperti apa yang ia alami? Jika tidak, andai saja bisa bertukar tempat dan menghilang dari penat yang ia rasakan. Dia terus memandangi sosok dirinya dari tempat yang berbeda, apa diseberang cermin itu ada kehidupan lain, sedikit berfantasi tentang satu sosok yang sama namun memiliki kehidupan yang berbeda. Dia coba tersenyum, sosok gadis yang terlihat didepannya pun ikut tersenyum, begitu manis, tidak tampak beban pikiran yang ditanggungnya, berharap andai saja bisa tersenyum semanis itu tanpa harus memikul beban. Rasanya begitu miris, ketika melihat sosok dirinya sendiri di depan cermin namun dalam keadaan yang berbeda, apa sosok itu juga ikut merasakan beban yang dipikulnya ketika tersenyum semanis tadi. Sedangkan  ia sendiri jelas-jelas merasakan senyum yang tertahan, senyuman yang seolah-olah berkata “Kenapa hidupku jadi seperti ini”, semacam menertawakan diri sendiri. Dia ingin tersenyum dari arah yang berbeda, dari tempat berbeda yang terlihat didepannya, senyuman semanis sosok gadis yang ada dihadapannya. Semakin lama ia menatap sosok itu, dilihatnya mata yang mulai berlinang, tak lama kemudian butiran air jatuh dari sudut mata kirinya, jatuh membasahi pipi, terus berjalan membasahi bibirnya, sejenak kemudian tangisannya tumpah, jadi satu dalam kesedihan yang mendalam. Dia terus menangis sambil menatap sosok gadis yang ada dihadapannya. Sosok itu ikut menangis. Kenapa gadis yang ada dihadapannya ikut menangis? Apa yang ditangisinya, apa dia ikut terhanyut dalam kesedihan sepertiku? Matanya mulai memerah, tetesan air mata jatuh semakin deras. Sekilas dia merasakan kesedihan sambil memperhatikan sosok gadis yang ikut menangis dihadapannya, kesedihan yang semakin dalam terlihat dihadapannya, tangisannya semakin pecah bersamaan dengan dilihatnya raut sedih dan tangisan sosok gadis dalam cermin itu. Tangisan dan kesedihan itu jadi satu dan terus memuncak, sampai akhirnya dia merasakan kelelahan. Perlahan ditahannya tangisan itu, tangisan gadis dicermin itupun mulai melemah, tersengal-sengal mencoba menahan tangisan, nafasnya terlihat berat. Perlahan-lahan, tangisannya mulai reda, dan kemudian benar-benar berhenti.
Ah sudahlah, ternyata sosok gadis dalam cermin itu sama saja. Kehidupan yang ia jalani di dalam sana tidak ada bedanya dengan yang ia rasakan, bahagia dan sedih yang bersamaan datangnya. Apa yang bisa diharapkannya dari sosok gadis dalam cermin itu. Karena sosok itu memang dirinya sendiri. Dia tidak bisa melihat secara langsung suka dan duka yang ia rasakan, sampai ia melihat sendiri sosoknya dalam cermin. Apa yang terlihat dalam cermin, itulah yang terlihat dalam dirinya sendiri. Karena terkadang, memang dibutuhkan sebuah cermin untuk melihat dengan jelas rasa yang dia alami, baik itu suka maupun duka. Untuk melihat seberapa besar kebahagiaan dan sedalam apa kesedihan yang ia rasakan.