March 29, 2012

Sebuah Dialog Bocah dan Bapaknya

Seorang bocah pengembara
berbincang dgn bapaknya,

Pak,,coba buktikan satu ditambah satu sama dgn dua?
Kehidupan tidak berawal dari sebuah bukti
tanpa bukti apapun, kau akan bisa tetap hidup
keyakinanmu melahirkan pikiran,
tindakan,
kebiasaan,
karakter,
sang nasib adalah bukti di kemudian hari

Pak,,tahukah bapak,,kemana matahari pergi dan kembali?
Kehidupan senantiasa pergi,
tak pernah kembali, tak peduli
yg lalu engkau telah menjadi apa atau kau bukan siapa-siapa
tak peduli semuanya
kau akan pergi kemana
tentukan tujuanmu
………..
Lakukan hari ini,
Besok dan besok lagi
Kau temukan apa yg kau cari

Pak,,mana yg lebih dipercaya,
janji siang yg akan datang
atau malam yg akan tenggelam?
Selain dirimu,
kehidupan hanya perlu satu orang yg percaya,
bahwa kau pasti bisa,
apa saja,,,
hentakkan kakimu,,
semesta akan mengikutimu

Karya : Atik Bintoro. “Rimba dalam Sains” (2008:18-19)

March 28, 2012

Canggung itu. . .


Apa yang terlintas dalam pikiran kamu jika pertama kali mendengar kata “canggung”? Kaku, malu-malu, agak janggal, kikuk, kekok, ah atau apapun itu yang jelas canggung itu sangat sangat tidak enak, kalau aku ibaratkan lebih seperti perasaan malu, tengsin, risih, selebihnya perasaan yang membuat kita pengen ngilang seketika.
Banyak versi canggung menurutku, bisa dalam segala hal. Nah, intinya bagaimana reaksi gak enak dari canggung itu. Kasus yang pertama, canggung itu ketika kamu kepergok sedang memandangi si ‘dia’ diam-diam, kebayangkan gimana perasaan kamu di saat kamu lagi asik-asiknya mandangi wajahnya, cara berbicaranya, setiap gerak gerik dan tingkah lakunya, cara dia tertawa dan bercanda dengan teman-temannya. Kamu gak merasakan sama sekali kehadiran siapapun di samping kamu, selebihnya berasa kayak di kuburan, sekitarmu sepi. Namun, tiba-tiba mata si ‘dia’ beradu dengan mata kamu. Jedarrrr!!!! Seperti petir menyambar (yang belum merasakan, jangan coba-coba ingin di sambar petir ya). Yah, ketahuan deh. Tengsin gila. Berasa kayak ketindih gajah yang menderita obesitas. Yang lebih gak enaknya lagi, ketika kamu berusaha terlihat sok cool dan pura-pura gak tahu dengan seketika memalingkan pandangan. Padahal, malu akut abis!!! Malunya ibarat seseorang yang awalnya punya reputasi dan nama baik, tiba-tiba tercoreng hanya dengan sebuah pandangan diam-diam tadi. Malunya juga bikin kita pengen kabur, menghilang saat itu juga.
Kasus berikutnya, ketika kita shalat berjamaah. Syaf-syaf yang sangat rapat mengharuskan kita duduk sangat berdekatan dengan jamaah lainnya. Nah, canggung itu datang ketika rakaat terakhir, para jamaah mengucapkan salam. Pastinya, gak semua jamaah memiliki gerakan yang sama dan tepat. Ketika kamu mengucapkan salam pertama ke arah kanan, kemudian jamaah di sebelah kananmu malah sudah duluan mengucapkan salam kedua dan menoleh ke arah kirinya. “Assalaaamualaiii…” berhenti sejenak, mata kamu bertemu dengan matanya “…kum…”Terjadilah kontak mata dengan jamaah tersebut. Saling pandang yang sangat membuat kamu jadi risih. Lagi khusuk-khusuknya mengucapkan salam malah kekhusukan itu dirusak sebuah kontak mata dengan orang yang tak dikenal. Pura-pura tetap khusuk padahal kekhusukan itu sudah hancur pada saat pandangan pertama. Buseeeeet dah!
Kasus berikutnya lagi, ketika kamu sedang berada dalam sebuah toko baju dengan seorang teman, melihat-lihat beberapa pakaian dalam khusus wanita. Karena terlalu serius melihat-lihat itu beberapa pakaian dalam (padahal gak ada niat sedikitpun mau beli) kamu gak sadar kalau teman kamu sudah hilang dari pandangan. Dengan lantangnya kemudian berbicara pada orang yang sebelah kamu (which is kamu mengira dia adalah teman kamu) “Oh, ini ya yang namanya Lingerie itu?” sambil menoleh. CI LUUK BAAA! Loh, kok teman kamu berubah jadi tua begini? Hahahaha ternyata yang kamu ajak bicara adalah seorang Ibu paruh baya, Ibu itu hanya tersenyum tapi entahlah apa yang berkecamuk dalam pikirannya, yang jelas pihak yang dirugikan disini ya kamu sendiri, sudah lantang, nanyain Lingerie pula, coba bayangkan seandainya Ibu tadi om-om, bapak-bapak, kakek-kakek, yah yang jelas berkelamin pria lah. Kebayang gak? Kasus yang mirip seperti ini sama juga ketika kamu salah menggandeng orang. Niat mau gandeng teman atau pacar malah gandeng teman atau pacar orang. Jeleknya disini, kebanyakan orang yang kamu salah gandeng itu malah diam aja, keasikan di gandeng kamu. Alamaaaak!!!
Last but not least. Canggung itu ketika kamu yang seorang pengunjung malah di sangka seorang pelayan. Lagi enak-enaknya duduk nungguin pesanan jadi, tiba-tiba ada yang nyablak “Mbak, saya pesan mie ayam spesialnya dua ya.” “Mbak, tas yang ini berapa?” “Mbak yang ukuran L ada gak?” “Mbak yang ini ada warna apa aja?” Anyeng, membuat kamu memaki dalam hati “emang lu pikir tampang gue kayak pelayan apa” sambil ngeliatin diri kamu sendiri from head to toe. Dan sampai rumah, masih terus ngerasa aneh, bagaimana bisa kamu dianggap seorang pelayan wuahahaha. Ingat, siapapun itu, yang duduk atau berdiri di tempat biasanya para pelayan berdiri bukan berarti seorang pelayan, walaupun terkadang penampilan selalu menipu, entah karena pakaian kamu yang memang mirip pelayan bagi kebanyakan orang, hihihi.
Nah, beberapa kasus diatas adalah peristiwa yang bisa buat canggung versi aku, dimana sebagiannya adalah kejadian nyata atau biasa di namakan “based on true story”tapi bukan “inspiring story” loh. Beberapa kejadian diatas lebih baik jangan ditiru, meski terkadang kejadian konyol seperti itu bisa saja dialami siapapun, atau memang kamu dengan sengaja mencontoh kelakuan-kelakuan diatas hanya untuk merasakan canggung. Haha, tapi lucu juga kalo di bayangin, sensasi canggungnya itu loh yang gak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata, eeaaaaaa.

Peristiwa Singkat Saat Hujan Turun


Rabu, 14 Maret 2012.


Di suatu Rabu siang, aku dan temanku yang tak perlu disebutkan namanya terjebak hujan deras di tengah jalan, tanpa berpikir panjang kami pun berteduh di sebuah toko, entah nama tokonya apa, yang terpenting kita selamat dari hujan. Beberapa menit kemudian datanglah seorang Ibu yang kira-kira sudah cukup berumur, kemungkinan umurnya sekitar 50an, rambutnya sudah terlihat beruban, memang benar-benar beruban atau diwarnai, sekali lagi bukan urusanku. Menenteng sebuah tas plastik berwarna di tangan kirinya, memakai sebuah kain sarung  sebagai bawahannya. Tiba-tiba Ibu itu membuka percakapan.
“Lah, kok hujannya reda ya.” Katanya menanggapi hujan yang turunnya gak jelas dari tadi. Sebentar deras sebentar reda. “Iya Bu, tadi kelihatannya cuacanya cerah, tapi kok tiba-tiba sudah turun hujan.”
“Iya ini, wah kita disiram air laut.” Balas Ibu itu. Aku kaget mendengar ucapan ibu itu. Air laut? Emang ada tsunami ya? Tanyaku dalam hati. Terlihat temanku yang berdiri di sampingku juga tertawa. Kemudian ibu itu melanjutkan “La iya to, hujan ini asalnya dari air laut yang nguap, jatuh lagi jadi air, la trus balik lagi ke laut.” Jawabnya ibu itu polos tapi terdengar sangat lantang. Dari logat bicaranya bisa disimpulkan ibu itu orang Jawa asli. Aku berpikir sejenak, mencerna perkataan ibu itu, ternyata memang ada benarnya. Eh bukan, tapi itu memang benar. Air hujan ya jelas berasal dari air laut yang menguap karena panas matahari, kemudian membentuk awan, berjalan searah dengan arah angin, kemudian jatuh kembali sebagai air hujan, dan tentunya semua air akan bermuara di lautan. Iya ya, aku jadi teringat mata pelajaran IPA yang pernah ku dapat dulu di bangku sekolah.
Kubalas perkataan Ibu tadi. “iya ya bu, sudah siklusnya begitu.” “Iya, dari bawah naik ke atas la turun lagi ke bawah. Seperti hidup, kadang di atas kadang di bawah, nah saya ini kok di bawah terus, ga pernah naik naik ke atas”. Glek! Kaget mendengar perkataan si ibu, bukan karena tidak pernah mendengar keluhan seorang rakyat jelata, tapi kok perkataannya benar-benar mengena. Seketika itu aku merasa simpati pada si Ibu, secara tidak langsung itu merupakan keluhan seorang yang menurutnya selalu berada di bawah. tapi terlihat seperti tetap tegar menjalani hidupnya. Beberapa menit kemudian, hujan sudah benar-benar reda, kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju sebuah pertokoan di tengah kota. Sebelum pergi, si Ibu kembali bersuara “Mbak yang dua ini siapa to namanya, kita belum kenalan”. Ku balas dengan senyuman dan menjabat tangannya “Nina” sambil kusebutkan namaku, lalu bergantian menjabat tangan temanku “Dee”. “Oh, iya saya Minem. Hati-hati lo di jalan.” Pesan terakhir si Ibu.
Peristiwa singkat di atas seakan menegurku bahwa apa yang aku miliki sekarang sudah lebih dari cukup. Setiap manusia memang diharuskan mensyukuri nikmat yang dia dapat dari kehidupannya, sepahit dan sekeras apapun hidup yang dimiliki, itu tetap hadiah dari Tuhan. Seperti kutipan Edi Mulyono yang mengatakan bahwa “sebuah ujian dalam hidup kita bisa jadi merupakan sebuah tebusan atas kesalahan kita di masa lalu atau sebuah uang muka atas kemuliaan yang akan kita raih di masa depan.”

Siapa Namamu?


Jalan ini selalu ramai dan padat tidak hanya pada setiap hari kerja, bahkan di hari liburpun selalu dilewati dan dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang melewati jalan dua jalur ini. Jarak antara kendaraan pun bisa dibilang sangat dekat atau ‘mepet’. Yah, mungkin karena jalan ini adalah jalan alternatif menuju kota dan tempat wisata sebuah gunung yang merupakan salah satu tempat wisata tujuan bagi para wisatawan yang sedang mengunjungi kota ini.
Sepeda motor yang dikendarai Nina sedang melaju dari arah kota menuju utara, cuacanya panas dan menyengat. Sehabis mengikuti kuliah Nina memutuskan untuk langsung pulang saja. Motornya berhenti di sebuah lampu lalu lintas simpang empat pada km 3. Letih, panas, haus dan lapar bercampur jadi satu, di liriknya sebuah mobil yang berhenti pas di sebelahnya, sedan toyota berwarna hitam, diperkirakan di produksi beberapa tahun yang lalu, entahlah tepatnya dengan kondisi ‘bumper’ belakang yang sudah tidak menempel lagi. Mobil macam apa ini batinnya, tapi ya tak apalah dari pada dirinya yang harus berpanas-panas di bawah terik matahari yang menyengat, dan juga mereka yang bernasib sama. Lampu hijau menyala, semua kendaraan memacu gas dan berjalan perlahan, karena jarak yang ‘mepet’ tadi. Panasnya matahari semakin menyengat, keinginan untuk melaju dengan cepat terhambat karena banyaknya kendaraan yang mempersempit jalan. Namun, mengendarai motor punya salah satu keuntungan, kendaraan yang terbilang kecil dibandingkan dengan mobil ini bisa menyusup melalui sela-sela kecil jalan. Nina pun menarik gas motornya lebih kencang ketika melihat ada cela untuk menyalip keramaian itu. Tangannya bermain memutar stang motor untuk menghindari motor yang lain.
Akhirnya, keramaian itu jauh tertinggal di belakangnya, tiba-tiba dia memperlambat laju motornya, setelah melihat sebuah plang yang bertuliskan ‘K24’ dan semakin lambat, lambat dan lambat, setelah melihat plang yang bertuliskan ‘Photo Talk’ Nina menoleh ke arah kirinya, memasang mata dengan jeli melihat ke dalam sebuah studio cetak foto tersebut, mencari dan mencari. Sebuah senyuman kemudian terlepas dari wajahnya setelah ditemukan sosok yang ia cari. Lelaki tinggi jangkung, rambut bergaya acak-acakan, berjambang tipis, memakai seragam berpadu warna biru dan kuning. Duduk tegak di depan sebuah PC, melayani seorang pelanggan, entah tujuannya untuk mencetak foto atau mengambil pesanan cetakan. Panas yang menyengat tak dirasakan lagi, dia terus memandang sambil bergantian melihat arah jalan di depannya agar tidak menabrak kendaraan lain tentunya. Pandangannya tak lepas dari lelaki itu, ada rasa puas tersendiri sekaligus senang bisa melihatnya hari itu. Namun, pandangannya lalu lepas karena sebuah klakson mobil berbunyi di belakangnya, Nina pun memacu motornya dengan cepat, jika tak ingin klakson bising itu berbunyi lagi.
Begitulah, setiap harinya. Dan entah ini sudah memasuki hari yang keberapa sejak pertama kali dia melihat sosok lelaki tinggi jangkung dan manis tersebut di studio cetak foto tadi. Setiap melewati jalan itu, dia tak ingin melepaskan kesempatan untuk menoleh ke arah studio foto itu demi melihat lelaki tinggi dan jangkung tadi. Tapi tak jarang juga dia merasa kecewa karena tak dapat melihat sosok lelaki yang ia sukai. Tentunya lelaki itu tidak bekerja dengan shift penuh, Nina berpikiran mungkin dia juga sedang mengenyang pendidikan di perguruan tinggi, jadi seluruh waktu yang dimilikinya harus di bagi antara pekerjaan dan kuliah. Entahlah, tak banyak yang Nina ketahui tentang lelaki itu.
Esoknya, memasuki hari yang kesekian kalinya, Nina melewati jalan yang biasa dilewati. Waktu menunjukkan pukul 5.30 p.m. Hari sudah mulai gelap, para pengemudi mulai menyalakan lampu kendaraannya. Seperti biasa jalur itu tak pernah sepi, kendaraanpun berjalan pelan dan rapat.  Nina membawa motornya dengan sangat pelan, kali ini dia tak berniat untuk menghindari keramaian di jalan itu. Tatapannya seperti kosong, tidak terfokus pada jalan yang ada didepannya. Dia berpikir, bingung dan bertanya pada dirinya sendiri “apa aku punya keberanian ya?”dan seakan ada yang menjawab dari dalam dirinya “lakukan saja, kamu punya kesempatan setiap harinya, manfaatkanlah kesempatan itu”. Lalu, Nina memacu motornya sedikit lebih cepat. Setelah sampai di depan sebuah studio foto yang bertuliskan “Photo Talk” dia menoleh ke arah kirinya, tak butuh waktu lama untuk mencari sosok itu, matanya langsung menemukan sosok lelaki tinggi jangkuk yang sedang duduk di depan sebuah PC. Nina memarkir motornya, membuka helm, membuka sweater merahnya dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu itu, Nina masuk dengan degup jantung yang kencang. Dia disambut dengan senyuman manis si lelaki tinggi jangkung itu. Nina duduk tepat di depannya. Dia pandangi dengan seksama, memperhatikan detail wajah lelaki itu. Dan dia tidak pernah berada pada jarak yang sedekat itu. Ternyata, lelaki itu terlihat lebih manis. Nina merogok tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna pink. Menyodorkannya pada lelaki itu. “Saya mau cetak foto, 3x4 sebanyak 8 lembar ya”. Lelaki itu kemudian menjawab dengan ramah sekali “silahkan tunggu beberapa menit lagi ya”. Nina berpindah menuju kursi khusus tempat para pelanggan menunggu namun masih tepat searah dengan tempat duduk lelaki itu. Nina mengambil majalah, tapi tidak membacanya, hanya melihat sepintas dan membolak balik setiap halaman sambil diam-diam terus memperhatikannya. Betapa manisnya dia, matanya tajam, alis yang tebal dan hitam legam, rambutnya tidak tersisir dengan rapi dan terkesan acak-acakan tapi Nina suka.
Setelah beberapa menit, cetakan foto yang dipesan Nina sudah jadi. Dia berjalan menuju kasir dan membayar biaya cetak. Nina kemudian berjalan menuju pintu keluar sambil melihat kembali lelaki itu sebelum hilang dari pandangannya. Belum sempat dia membuka pintu, dia berbalik dan menuju ke arah kursi tunggu tadi. Ada yang terlupa. Dia lupa mengembalikan majalah ke tempat semula. Di ambilnya majalah itu dan di letakkan di tempat  semula ia mengambilnya. Lelaki itu memperhatikan, kemudian tersenyum ke arah Nina, Nina kaget, tapi tak melepas kesempatan, diapun melepas senyuman semanis mungkin pada lelaki itu. Mungkin hanya sekedar sebagai tanda terima kasih karena telah mengembalikan majalah itu pada tempatnya semula Nina pun kemudian keluar, azan magrib terdengar. Dia tahu dia harus segera pulang kembali ke kos. Dia berjalan keluar seiring dengan hilangnya pandangan Nina terhadap lelaki itu. Walau hanya secepat itu, Nina cukup senang karena bisa melihat lelaki tinggi jangkung yang selama ini ia sukai dalam jarak sedekat tadi.
Ternyata Nina tak punya cukup nyali untuk memulai percakapan dan sekedar berkenalan untuk mengetahui namanya. Dia hanya bisa melihat lelaki tinggi jangkung itu ketika melewati studio cetak foto, seterusnya berjalan seperti itu. Kebiasaannya menoleh hanya untuk melihat sepintas sosok lelaki tinggi jangkung itu masih berlangsung sampai sekarang.