March 28, 2012

Peristiwa Singkat Saat Hujan Turun


Rabu, 14 Maret 2012.


Di suatu Rabu siang, aku dan temanku yang tak perlu disebutkan namanya terjebak hujan deras di tengah jalan, tanpa berpikir panjang kami pun berteduh di sebuah toko, entah nama tokonya apa, yang terpenting kita selamat dari hujan. Beberapa menit kemudian datanglah seorang Ibu yang kira-kira sudah cukup berumur, kemungkinan umurnya sekitar 50an, rambutnya sudah terlihat beruban, memang benar-benar beruban atau diwarnai, sekali lagi bukan urusanku. Menenteng sebuah tas plastik berwarna di tangan kirinya, memakai sebuah kain sarung  sebagai bawahannya. Tiba-tiba Ibu itu membuka percakapan.
“Lah, kok hujannya reda ya.” Katanya menanggapi hujan yang turunnya gak jelas dari tadi. Sebentar deras sebentar reda. “Iya Bu, tadi kelihatannya cuacanya cerah, tapi kok tiba-tiba sudah turun hujan.”
“Iya ini, wah kita disiram air laut.” Balas Ibu itu. Aku kaget mendengar ucapan ibu itu. Air laut? Emang ada tsunami ya? Tanyaku dalam hati. Terlihat temanku yang berdiri di sampingku juga tertawa. Kemudian ibu itu melanjutkan “La iya to, hujan ini asalnya dari air laut yang nguap, jatuh lagi jadi air, la trus balik lagi ke laut.” Jawabnya ibu itu polos tapi terdengar sangat lantang. Dari logat bicaranya bisa disimpulkan ibu itu orang Jawa asli. Aku berpikir sejenak, mencerna perkataan ibu itu, ternyata memang ada benarnya. Eh bukan, tapi itu memang benar. Air hujan ya jelas berasal dari air laut yang menguap karena panas matahari, kemudian membentuk awan, berjalan searah dengan arah angin, kemudian jatuh kembali sebagai air hujan, dan tentunya semua air akan bermuara di lautan. Iya ya, aku jadi teringat mata pelajaran IPA yang pernah ku dapat dulu di bangku sekolah.
Kubalas perkataan Ibu tadi. “iya ya bu, sudah siklusnya begitu.” “Iya, dari bawah naik ke atas la turun lagi ke bawah. Seperti hidup, kadang di atas kadang di bawah, nah saya ini kok di bawah terus, ga pernah naik naik ke atas”. Glek! Kaget mendengar perkataan si ibu, bukan karena tidak pernah mendengar keluhan seorang rakyat jelata, tapi kok perkataannya benar-benar mengena. Seketika itu aku merasa simpati pada si Ibu, secara tidak langsung itu merupakan keluhan seorang yang menurutnya selalu berada di bawah. tapi terlihat seperti tetap tegar menjalani hidupnya. Beberapa menit kemudian, hujan sudah benar-benar reda, kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju sebuah pertokoan di tengah kota. Sebelum pergi, si Ibu kembali bersuara “Mbak yang dua ini siapa to namanya, kita belum kenalan”. Ku balas dengan senyuman dan menjabat tangannya “Nina” sambil kusebutkan namaku, lalu bergantian menjabat tangan temanku “Dee”. “Oh, iya saya Minem. Hati-hati lo di jalan.” Pesan terakhir si Ibu.
Peristiwa singkat di atas seakan menegurku bahwa apa yang aku miliki sekarang sudah lebih dari cukup. Setiap manusia memang diharuskan mensyukuri nikmat yang dia dapat dari kehidupannya, sepahit dan sekeras apapun hidup yang dimiliki, itu tetap hadiah dari Tuhan. Seperti kutipan Edi Mulyono yang mengatakan bahwa “sebuah ujian dalam hidup kita bisa jadi merupakan sebuah tebusan atas kesalahan kita di masa lalu atau sebuah uang muka atas kemuliaan yang akan kita raih di masa depan.”

No comments:

Post a Comment