Rabu,
14 Maret 2012.
Di suatu Rabu siang, aku dan temanku
yang tak perlu disebutkan namanya terjebak hujan deras di tengah jalan, tanpa
berpikir panjang kami pun berteduh di sebuah toko, entah nama tokonya apa, yang
terpenting kita selamat dari hujan. Beberapa menit kemudian datanglah seorang Ibu
yang kira-kira sudah cukup berumur, kemungkinan umurnya sekitar 50an, rambutnya
sudah terlihat beruban, memang benar-benar beruban atau diwarnai, sekali lagi
bukan urusanku. Menenteng sebuah tas plastik berwarna di tangan kirinya,
memakai sebuah kain sarung sebagai
bawahannya. Tiba-tiba Ibu itu membuka percakapan.
“Lah,
kok hujannya reda ya.” Katanya menanggapi hujan yang turunnya gak jelas dari
tadi. Sebentar deras sebentar reda. “Iya Bu, tadi kelihatannya cuacanya cerah,
tapi kok tiba-tiba sudah turun hujan.”
“Iya
ini, wah kita disiram air laut.” Balas Ibu itu. Aku kaget mendengar ucapan ibu
itu. Air laut? Emang ada tsunami ya? Tanyaku dalam hati. Terlihat temanku yang
berdiri di sampingku juga tertawa. Kemudian ibu itu melanjutkan “La iya to,
hujan ini asalnya dari air laut yang nguap, jatuh lagi jadi air, la trus balik
lagi ke laut.” Jawabnya ibu itu polos tapi terdengar sangat lantang. Dari logat
bicaranya bisa disimpulkan ibu itu orang Jawa asli. Aku berpikir sejenak,
mencerna perkataan ibu itu, ternyata memang ada benarnya. Eh bukan, tapi itu
memang benar. Air hujan ya jelas berasal dari air laut yang menguap karena
panas matahari, kemudian membentuk awan, berjalan searah dengan arah angin,
kemudian jatuh kembali sebagai air hujan, dan tentunya semua air akan bermuara
di lautan. Iya ya, aku jadi teringat mata pelajaran IPA yang pernah ku dapat
dulu di bangku sekolah.
Kubalas
perkataan Ibu tadi. “iya ya bu, sudah siklusnya begitu.” “Iya, dari bawah naik
ke atas la turun lagi ke bawah. Seperti hidup, kadang di atas kadang di bawah,
nah saya ini kok di bawah terus, ga pernah naik naik ke atas”. Glek! Kaget
mendengar perkataan si ibu, bukan karena tidak pernah mendengar keluhan seorang
rakyat jelata, tapi kok perkataannya benar-benar mengena. Seketika itu aku
merasa simpati pada si Ibu, secara tidak langsung itu merupakan keluhan seorang
yang menurutnya selalu berada di bawah. tapi terlihat seperti tetap tegar
menjalani hidupnya. Beberapa menit kemudian, hujan sudah benar-benar reda, kita
memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju sebuah pertokoan di tengah kota.
Sebelum pergi, si Ibu kembali bersuara “Mbak yang dua ini siapa to namanya,
kita belum kenalan”. Ku balas dengan senyuman dan menjabat tangannya “Nina”
sambil kusebutkan namaku, lalu bergantian menjabat tangan temanku “Dee”. “Oh,
iya saya Minem. Hati-hati lo di jalan.” Pesan terakhir si Ibu.
Peristiwa singkat di atas seakan
menegurku bahwa apa yang aku miliki sekarang sudah lebih dari cukup. Setiap
manusia memang diharuskan mensyukuri nikmat yang dia dapat dari kehidupannya,
sepahit dan sekeras apapun hidup yang dimiliki, itu tetap hadiah dari Tuhan.
Seperti kutipan Edi Mulyono yang mengatakan bahwa “sebuah ujian dalam hidup
kita bisa jadi merupakan sebuah tebusan atas kesalahan kita di masa lalu atau
sebuah uang muka atas kemuliaan yang akan kita raih di masa depan.”
No comments:
Post a Comment