Jalan
ini selalu ramai dan padat tidak hanya pada setiap hari kerja, bahkan di hari
liburpun selalu dilewati dan dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang
melewati jalan dua jalur ini. Jarak antara kendaraan pun bisa dibilang sangat dekat
atau ‘mepet’. Yah, mungkin karena jalan ini adalah jalan alternatif menuju kota
dan tempat wisata sebuah gunung yang merupakan salah satu tempat wisata tujuan
bagi para wisatawan yang sedang mengunjungi kota ini.
Sepeda
motor yang dikendarai Nina sedang melaju dari arah kota menuju utara, cuacanya
panas dan menyengat. Sehabis mengikuti kuliah Nina memutuskan untuk langsung
pulang saja. Motornya berhenti di sebuah lampu lalu lintas simpang empat pada
km 3. Letih, panas, haus dan lapar bercampur jadi satu, di liriknya sebuah
mobil yang berhenti pas di sebelahnya, sedan toyota berwarna hitam,
diperkirakan di produksi beberapa tahun yang lalu, entahlah tepatnya dengan
kondisi ‘bumper’ belakang yang sudah tidak menempel lagi. Mobil macam apa ini
batinnya, tapi ya tak apalah dari pada dirinya yang harus berpanas-panas di
bawah terik matahari yang menyengat, dan juga mereka yang bernasib sama. Lampu
hijau menyala, semua kendaraan memacu gas dan berjalan perlahan, karena jarak
yang ‘mepet’ tadi. Panasnya matahari semakin menyengat, keinginan untuk melaju
dengan cepat terhambat karena banyaknya kendaraan yang mempersempit jalan.
Namun, mengendarai motor punya salah satu keuntungan, kendaraan yang terbilang
kecil dibandingkan dengan mobil ini bisa menyusup melalui sela-sela kecil
jalan. Nina pun menarik gas motornya lebih kencang ketika melihat ada cela
untuk menyalip keramaian itu. Tangannya bermain memutar stang motor untuk
menghindari motor yang lain.
Akhirnya,
keramaian itu jauh tertinggal di belakangnya, tiba-tiba dia memperlambat laju
motornya, setelah melihat sebuah plang yang bertuliskan ‘K24’ dan semakin
lambat, lambat dan lambat, setelah melihat plang yang bertuliskan ‘Photo Talk’ Nina
menoleh ke arah kirinya, memasang mata dengan jeli melihat ke dalam sebuah
studio cetak foto tersebut, mencari dan mencari. Sebuah senyuman kemudian
terlepas dari wajahnya setelah ditemukan sosok yang ia cari. Lelaki tinggi
jangkung, rambut bergaya acak-acakan, berjambang tipis, memakai seragam berpadu
warna biru dan kuning. Duduk tegak di depan sebuah PC, melayani seorang
pelanggan, entah tujuannya untuk mencetak foto atau mengambil pesanan cetakan. Panas
yang menyengat tak dirasakan lagi, dia terus memandang sambil bergantian
melihat arah jalan di depannya agar tidak menabrak kendaraan lain tentunya. Pandangannya
tak lepas dari lelaki itu, ada rasa puas tersendiri sekaligus senang bisa
melihatnya hari itu. Namun, pandangannya lalu lepas karena sebuah klakson mobil
berbunyi di belakangnya, Nina pun memacu motornya dengan cepat, jika tak ingin
klakson bising itu berbunyi lagi.
Begitulah,
setiap harinya. Dan entah ini sudah memasuki hari yang keberapa sejak pertama
kali dia melihat sosok lelaki tinggi jangkung dan manis tersebut di studio
cetak foto tadi. Setiap melewati jalan itu, dia tak ingin melepaskan kesempatan
untuk menoleh ke arah studio foto itu demi melihat lelaki tinggi dan jangkung
tadi. Tapi tak jarang juga dia merasa kecewa karena tak dapat melihat sosok
lelaki yang ia sukai. Tentunya lelaki itu tidak bekerja dengan shift penuh,
Nina berpikiran mungkin dia juga sedang mengenyang pendidikan di perguruan
tinggi, jadi seluruh waktu yang dimilikinya harus di bagi antara pekerjaan dan
kuliah. Entahlah, tak banyak yang Nina ketahui tentang lelaki itu.
Esoknya,
memasuki hari yang kesekian kalinya, Nina melewati jalan yang biasa dilewati.
Waktu menunjukkan pukul 5.30 p.m. Hari sudah mulai gelap, para pengemudi mulai
menyalakan lampu kendaraannya. Seperti biasa jalur itu tak pernah sepi,
kendaraanpun berjalan pelan dan rapat. Nina
membawa motornya dengan sangat pelan, kali ini dia tak berniat untuk
menghindari keramaian di jalan itu. Tatapannya seperti kosong, tidak terfokus
pada jalan yang ada didepannya. Dia berpikir, bingung dan bertanya pada dirinya
sendiri “apa aku punya keberanian ya?”dan seakan ada yang menjawab dari dalam
dirinya “lakukan saja, kamu punya kesempatan setiap harinya, manfaatkanlah
kesempatan itu”. Lalu, Nina memacu motornya sedikit lebih cepat. Setelah sampai
di depan sebuah studio foto yang bertuliskan “Photo Talk” dia menoleh ke arah
kirinya, tak butuh waktu lama untuk mencari sosok itu, matanya langsung
menemukan sosok lelaki tinggi jangkuk yang sedang duduk di depan sebuah PC.
Nina memarkir motornya, membuka helm, membuka sweater merahnya dan berjalan ke
arah pintu. Dibukanya pintu itu, Nina masuk dengan degup jantung yang kencang.
Dia disambut dengan senyuman manis si lelaki tinggi jangkung itu. Nina duduk
tepat di depannya. Dia pandangi dengan seksama, memperhatikan detail wajah
lelaki itu. Dan dia tidak pernah berada pada jarak yang sedekat itu. Ternyata,
lelaki itu terlihat lebih manis. Nina merogok tasnya dan mengeluarkan sebuah
flashdisk berwarna pink. Menyodorkannya pada lelaki itu. “Saya mau cetak foto,
3x4 sebanyak 8 lembar ya”. Lelaki itu kemudian menjawab dengan ramah sekali
“silahkan tunggu beberapa menit lagi ya”. Nina berpindah menuju kursi khusus
tempat para pelanggan menunggu namun masih tepat searah dengan tempat duduk
lelaki itu. Nina mengambil majalah, tapi tidak membacanya, hanya melihat
sepintas dan membolak balik setiap halaman sambil diam-diam terus
memperhatikannya. Betapa manisnya dia, matanya tajam, alis yang tebal dan hitam
legam, rambutnya tidak tersisir dengan rapi dan terkesan acak-acakan tapi Nina
suka.
Setelah
beberapa menit, cetakan foto yang dipesan Nina sudah jadi. Dia berjalan menuju
kasir dan membayar biaya cetak. Nina kemudian berjalan menuju pintu keluar
sambil melihat kembali lelaki itu sebelum hilang dari pandangannya. Belum
sempat dia membuka pintu, dia berbalik dan menuju ke arah kursi tunggu tadi. Ada
yang terlupa. Dia lupa mengembalikan majalah ke tempat semula. Di ambilnya
majalah itu dan di letakkan di tempat
semula ia mengambilnya. Lelaki itu memperhatikan, kemudian tersenyum ke
arah Nina, Nina kaget, tapi tak melepas kesempatan, diapun melepas senyuman
semanis mungkin pada lelaki itu. Mungkin hanya sekedar sebagai tanda terima
kasih karena telah mengembalikan majalah itu pada tempatnya semula Nina pun
kemudian keluar, azan magrib terdengar. Dia tahu dia harus segera pulang
kembali ke kos. Dia berjalan keluar seiring dengan hilangnya pandangan Nina
terhadap lelaki itu. Walau hanya secepat itu, Nina cukup senang karena bisa
melihat lelaki tinggi jangkung yang selama ini ia sukai dalam jarak sedekat
tadi.
Ternyata
Nina tak punya cukup nyali untuk memulai percakapan dan sekedar berkenalan
untuk mengetahui namanya. Dia hanya bisa melihat lelaki tinggi jangkung itu
ketika melewati studio cetak foto, seterusnya berjalan seperti itu. Kebiasaannya
menoleh hanya untuk melihat sepintas sosok lelaki tinggi jangkung itu masih
berlangsung sampai sekarang.
No comments:
Post a Comment