March 28, 2012

Siapa Namamu?


Jalan ini selalu ramai dan padat tidak hanya pada setiap hari kerja, bahkan di hari liburpun selalu dilewati dan dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu lalang melewati jalan dua jalur ini. Jarak antara kendaraan pun bisa dibilang sangat dekat atau ‘mepet’. Yah, mungkin karena jalan ini adalah jalan alternatif menuju kota dan tempat wisata sebuah gunung yang merupakan salah satu tempat wisata tujuan bagi para wisatawan yang sedang mengunjungi kota ini.
Sepeda motor yang dikendarai Nina sedang melaju dari arah kota menuju utara, cuacanya panas dan menyengat. Sehabis mengikuti kuliah Nina memutuskan untuk langsung pulang saja. Motornya berhenti di sebuah lampu lalu lintas simpang empat pada km 3. Letih, panas, haus dan lapar bercampur jadi satu, di liriknya sebuah mobil yang berhenti pas di sebelahnya, sedan toyota berwarna hitam, diperkirakan di produksi beberapa tahun yang lalu, entahlah tepatnya dengan kondisi ‘bumper’ belakang yang sudah tidak menempel lagi. Mobil macam apa ini batinnya, tapi ya tak apalah dari pada dirinya yang harus berpanas-panas di bawah terik matahari yang menyengat, dan juga mereka yang bernasib sama. Lampu hijau menyala, semua kendaraan memacu gas dan berjalan perlahan, karena jarak yang ‘mepet’ tadi. Panasnya matahari semakin menyengat, keinginan untuk melaju dengan cepat terhambat karena banyaknya kendaraan yang mempersempit jalan. Namun, mengendarai motor punya salah satu keuntungan, kendaraan yang terbilang kecil dibandingkan dengan mobil ini bisa menyusup melalui sela-sela kecil jalan. Nina pun menarik gas motornya lebih kencang ketika melihat ada cela untuk menyalip keramaian itu. Tangannya bermain memutar stang motor untuk menghindari motor yang lain.
Akhirnya, keramaian itu jauh tertinggal di belakangnya, tiba-tiba dia memperlambat laju motornya, setelah melihat sebuah plang yang bertuliskan ‘K24’ dan semakin lambat, lambat dan lambat, setelah melihat plang yang bertuliskan ‘Photo Talk’ Nina menoleh ke arah kirinya, memasang mata dengan jeli melihat ke dalam sebuah studio cetak foto tersebut, mencari dan mencari. Sebuah senyuman kemudian terlepas dari wajahnya setelah ditemukan sosok yang ia cari. Lelaki tinggi jangkung, rambut bergaya acak-acakan, berjambang tipis, memakai seragam berpadu warna biru dan kuning. Duduk tegak di depan sebuah PC, melayani seorang pelanggan, entah tujuannya untuk mencetak foto atau mengambil pesanan cetakan. Panas yang menyengat tak dirasakan lagi, dia terus memandang sambil bergantian melihat arah jalan di depannya agar tidak menabrak kendaraan lain tentunya. Pandangannya tak lepas dari lelaki itu, ada rasa puas tersendiri sekaligus senang bisa melihatnya hari itu. Namun, pandangannya lalu lepas karena sebuah klakson mobil berbunyi di belakangnya, Nina pun memacu motornya dengan cepat, jika tak ingin klakson bising itu berbunyi lagi.
Begitulah, setiap harinya. Dan entah ini sudah memasuki hari yang keberapa sejak pertama kali dia melihat sosok lelaki tinggi jangkung dan manis tersebut di studio cetak foto tadi. Setiap melewati jalan itu, dia tak ingin melepaskan kesempatan untuk menoleh ke arah studio foto itu demi melihat lelaki tinggi dan jangkung tadi. Tapi tak jarang juga dia merasa kecewa karena tak dapat melihat sosok lelaki yang ia sukai. Tentunya lelaki itu tidak bekerja dengan shift penuh, Nina berpikiran mungkin dia juga sedang mengenyang pendidikan di perguruan tinggi, jadi seluruh waktu yang dimilikinya harus di bagi antara pekerjaan dan kuliah. Entahlah, tak banyak yang Nina ketahui tentang lelaki itu.
Esoknya, memasuki hari yang kesekian kalinya, Nina melewati jalan yang biasa dilewati. Waktu menunjukkan pukul 5.30 p.m. Hari sudah mulai gelap, para pengemudi mulai menyalakan lampu kendaraannya. Seperti biasa jalur itu tak pernah sepi, kendaraanpun berjalan pelan dan rapat.  Nina membawa motornya dengan sangat pelan, kali ini dia tak berniat untuk menghindari keramaian di jalan itu. Tatapannya seperti kosong, tidak terfokus pada jalan yang ada didepannya. Dia berpikir, bingung dan bertanya pada dirinya sendiri “apa aku punya keberanian ya?”dan seakan ada yang menjawab dari dalam dirinya “lakukan saja, kamu punya kesempatan setiap harinya, manfaatkanlah kesempatan itu”. Lalu, Nina memacu motornya sedikit lebih cepat. Setelah sampai di depan sebuah studio foto yang bertuliskan “Photo Talk” dia menoleh ke arah kirinya, tak butuh waktu lama untuk mencari sosok itu, matanya langsung menemukan sosok lelaki tinggi jangkuk yang sedang duduk di depan sebuah PC. Nina memarkir motornya, membuka helm, membuka sweater merahnya dan berjalan ke arah pintu. Dibukanya pintu itu, Nina masuk dengan degup jantung yang kencang. Dia disambut dengan senyuman manis si lelaki tinggi jangkung itu. Nina duduk tepat di depannya. Dia pandangi dengan seksama, memperhatikan detail wajah lelaki itu. Dan dia tidak pernah berada pada jarak yang sedekat itu. Ternyata, lelaki itu terlihat lebih manis. Nina merogok tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna pink. Menyodorkannya pada lelaki itu. “Saya mau cetak foto, 3x4 sebanyak 8 lembar ya”. Lelaki itu kemudian menjawab dengan ramah sekali “silahkan tunggu beberapa menit lagi ya”. Nina berpindah menuju kursi khusus tempat para pelanggan menunggu namun masih tepat searah dengan tempat duduk lelaki itu. Nina mengambil majalah, tapi tidak membacanya, hanya melihat sepintas dan membolak balik setiap halaman sambil diam-diam terus memperhatikannya. Betapa manisnya dia, matanya tajam, alis yang tebal dan hitam legam, rambutnya tidak tersisir dengan rapi dan terkesan acak-acakan tapi Nina suka.
Setelah beberapa menit, cetakan foto yang dipesan Nina sudah jadi. Dia berjalan menuju kasir dan membayar biaya cetak. Nina kemudian berjalan menuju pintu keluar sambil melihat kembali lelaki itu sebelum hilang dari pandangannya. Belum sempat dia membuka pintu, dia berbalik dan menuju ke arah kursi tunggu tadi. Ada yang terlupa. Dia lupa mengembalikan majalah ke tempat semula. Di ambilnya majalah itu dan di letakkan di tempat  semula ia mengambilnya. Lelaki itu memperhatikan, kemudian tersenyum ke arah Nina, Nina kaget, tapi tak melepas kesempatan, diapun melepas senyuman semanis mungkin pada lelaki itu. Mungkin hanya sekedar sebagai tanda terima kasih karena telah mengembalikan majalah itu pada tempatnya semula Nina pun kemudian keluar, azan magrib terdengar. Dia tahu dia harus segera pulang kembali ke kos. Dia berjalan keluar seiring dengan hilangnya pandangan Nina terhadap lelaki itu. Walau hanya secepat itu, Nina cukup senang karena bisa melihat lelaki tinggi jangkung yang selama ini ia sukai dalam jarak sedekat tadi.
Ternyata Nina tak punya cukup nyali untuk memulai percakapan dan sekedar berkenalan untuk mengetahui namanya. Dia hanya bisa melihat lelaki tinggi jangkung itu ketika melewati studio cetak foto, seterusnya berjalan seperti itu. Kebiasaannya menoleh hanya untuk melihat sepintas sosok lelaki tinggi jangkung itu masih berlangsung sampai sekarang.

No comments:

Post a Comment