Punya teman banyak adalah salah satu
anugerah yang Tuhan berikan untuk kita. Bayangkan jika kalian tidak memiliki
teman sama sekali. Teman yang banyak, secara tidak langsung menyuguhkan banyak
koneksi pada hal-hal lain, tak menutup kemungkinan juga bahwa punya teman banyak akan mengantarkan
kita untuk lebih banyak mengenal orang-orang baru. Layaknya sebuah rantai
makanan.
Teman-temanku, bisa dibilang tak
sedikit, tapi juga tak banyak. Yang jelas, mereka semua orang-orang yang berbeda
dan memiliki keunikannya sendiri. Kebanyakan dari mereka aku kenal karena
dikenalkan juga oleh temanku. Walaupun terkadang tidak semua orang yang baru
kita kenal bisa dikatakan teman. Tapi, aku lebih suka mengganggapnya begitu,
teman adalah orang yang kita kenal terlepas dari sudah berapa lama kita
mengenal mereka. Aku tak pernah melupakan orang-orang yang aku temui selama
perjalanan hidup ini.
Teman-temanku, tak sama semuanya.
Mereka punya perbedaan, yang kemudian aku sebut sebagai keunikan. Unik itu adalah
suatu hal yang orang miliki, yang tak dimiliki orang lain. Karena memang
perbedaan di antara kita semua membuat suatu keunikan dalam diri. Sudah
bertahun-tahun berlalu, sudah memperkenalkanku pada teman-teman baru dengan
segala keunikan mereka. Ada yang polos, kolot, humoris, sangat perhatian, dan
aku suka. Ada juga yang keras kepala, selalu mementingkan diri sendiri,
cerewet, kadang menyebalkan, tapi aku tetap suka. Entahlah, mungkin karena aku
tak selalu mengganggap bahwa keburukan seorang teman adalah sesuatu yang jelek
dan haram. Terlalu tabu jika beranggapan seperti itu. Belum tentu juga sifat
kita yang kita anggap baik adalah sesuatu yang baik bagi mereka. Ada yang
berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, bahkan dari ujung timur
Indonesia yaitu Papua. Ciri khas dari daerah mereka adalah keunikan tersendiri.
Ada juga beberapa dari mereka yang memiliki hobi yang sama, sehingga mudah
untuk berbagi, tapi ada juga yang punya selera berbeda, namun itu tetap
merupakan suatu keuntungan buatku, berbagi hal yang belum pernah aku ketahui
adalah pengalaman dan ilmu baru untukku.
Kisah-kisah hidup mereka menjadi
inspirasi buatku, salah satunya kutumpahkan dalam tulisan singkat ini. Sebagian dari mereka ada
yang menyukai sastra, sama sepertiku. Senang bisa berbagi informasi tentang
para tokoh yang kita sukai, referensi novel yang patut untuk dibaca,
pusisi-puisi yang menyentuh hati. Ada pula yang menyukai linguistik, dengan
mereka aku berbagi tentang berbagai bahasa di dunia. Namun, ada juga beberapa dari
mereka yang lebih senang berhura-hura, belanja sana belanja sini menghabiskan
uang. Keras kepala dan terkadang lebih mementingkan diri sendiri. Tapi bukan
berarti keburukan mereka itu aku nilai sebagai sesuatu yang harus dihindari,
terkadang mereka juga memiliki sisi baik dalam diri mereka. Contohnya seperti
seorang temanku yang bernama Kamila, dia berasal dari keluarga kaya, orang
tuanya adalah seorang pengusaha sukses. Dia manja, selalu bergantung pada orang
tua, kebiasaan menghambur-hamburkan uang tak pernah bisa ia tinggalkan, selalu
belanja barang bermerk, tak pernah
bisa bertahan lama dalam suatu hubungan percintaan yang menyebabkan ia sering
gonta ganti pasangan. Tapi hal itu lalu tidak membuatku menilai dia dengan
sebelah mata, jauh dalam dirinya, dia masih punya satu sisi baik, dia selalu
bisa buatku tertawa kala kita berbicara akrab, selalu membantu jika aku susah.
Nah, tidak semua keburukan itu bisa digunakan untuk menilai baik buruknya
seseorang.
Kasus lainnya, beberapa minggu yang
lalu aku mengenal teman baru yang bernama Sinta. Seorang transgender, dia
berjenis kelamin laki-laki awalnya, tapi seiring perkembangan psikologinya, dia
merasa bahwa sosok permpuan dalam dirinya lebih mendominasai sehingga dia
memutuskan untuk berpindah dari laki-laki menjadi perempuan. Untungnya, aku
adalah orang yang open-minded, tak
ada hak untukku menilai dia, biar itu menjadi urusannya dengan Tuhan. Karena
dalam berteman aku tak pernah melihat latar belakang mereka, selama mereka
nyaman dan tulus untuk berteman, kenapa tidak?.
Beberapa minggu yang lalu, aku
berkenalan dengan seorang perempuan yang bernama Asti. Dia seorang lesbian,
punya pacar perempuan. Gaya berpakaiannya mirip laki-laki seperti kebanyakan
dari kaum seperti dia. Entah apa yang membuatnya berbelok ke arah itu, aku pun
tak ingin bertanya lebih jauh, kembali lagi karena itu hak dia, urusan dia yang
nantinya akan dia pertanggungjawabkan sendiri pada Tuhan. Kita tak perlu
menilai seorang teman terlalu jauh, cukup nilai saja apakah kita nyaman berteman
dengan mereka. Apa-apa yang menjadi keburukan mereka jangan ditiru, tapi tak
lupa juga untuk menasehati, dan ambilah yang baik-baik dari mereka. Jangan
pernah menilai seseorang jika kamu tak ingin dinilai.
Itu hanya sebagian cerita dari
teman-temanku. Masih banyak lagi mereka dengan keunika-keunikan mereka, yang
tak bisa aku ceritakan semua. Yang jelas, aku senang bisa bertemu dan mengenal
mereka. Cerita dan kisah mereka telah mengajarkan banyak hal, melihat dan
merasakan sesuatu yang tak pernah aku tahu sebelumnya. Mereka memperlihatkanku
pada dunia luar. Membuatku merasa tak sendirian, dan melihat suatu hal tak
hanya dari satu sisi. Apapun kebaikan dan keburukan mereka, semanis dan sepahit
apapun kisah mereka selalu aku anggap sebagai suatu keunikan. Jangan jadikan
keburukan itu menjadi dasar untuk menilai seseorang, ingat setiap manusia pasti
memiliki dua sisi. Tergantung kita mau memilih mengikuti yang mana. Senang bisa
bertemu dan mengenal kalian semua.
Nb : nama-nama yang ada dalam cerita
adalah nama yang disamarkan.
No comments:
Post a Comment