May 10, 2012

Kalian yang Unik…


Punya teman banyak adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan untuk kita. Bayangkan jika kalian tidak memiliki teman sama sekali. Teman yang banyak, secara tidak langsung menyuguhkan banyak koneksi pada hal-hal lain, tak menutup kemungkinan juga  bahwa punya teman banyak akan mengantarkan kita untuk lebih banyak mengenal orang-orang baru. Layaknya sebuah rantai makanan.
Teman-temanku, bisa dibilang tak sedikit, tapi juga tak banyak. Yang jelas, mereka semua orang-orang yang berbeda dan memiliki keunikannya sendiri. Kebanyakan dari mereka aku kenal karena dikenalkan juga oleh temanku. Walaupun terkadang tidak semua orang yang baru kita kenal bisa dikatakan teman. Tapi, aku lebih suka mengganggapnya begitu, teman adalah orang yang kita kenal terlepas dari sudah berapa lama kita mengenal mereka. Aku tak pernah melupakan orang-orang yang aku temui selama perjalanan hidup ini.
Teman-temanku, tak sama semuanya. Mereka punya perbedaan, yang kemudian aku sebut sebagai keunikan. Unik itu adalah suatu hal yang orang miliki, yang tak dimiliki orang lain. Karena memang perbedaan di antara kita semua membuat suatu keunikan dalam diri. Sudah bertahun-tahun berlalu, sudah memperkenalkanku pada teman-teman baru dengan segala keunikan mereka. Ada yang polos, kolot, humoris, sangat perhatian, dan aku suka. Ada juga yang keras kepala, selalu mementingkan diri sendiri, cerewet, kadang menyebalkan, tapi aku tetap suka. Entahlah, mungkin karena aku tak selalu mengganggap bahwa keburukan seorang teman adalah sesuatu yang jelek dan haram. Terlalu tabu jika beranggapan seperti itu. Belum tentu juga sifat kita yang kita anggap baik adalah sesuatu yang baik bagi mereka. Ada yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, bahkan dari ujung timur Indonesia yaitu Papua. Ciri khas dari daerah mereka adalah keunikan tersendiri. Ada juga beberapa dari mereka yang memiliki hobi yang sama, sehingga mudah untuk berbagi, tapi ada juga yang punya selera berbeda, namun itu tetap merupakan suatu keuntungan buatku, berbagi hal yang belum pernah aku ketahui adalah pengalaman dan ilmu baru untukku.
Kisah-kisah hidup mereka menjadi inspirasi buatku, salah satunya kutumpahkan dalam  tulisan singkat ini. Sebagian dari mereka ada yang menyukai sastra, sama sepertiku. Senang bisa berbagi informasi tentang para tokoh yang kita sukai, referensi novel yang patut untuk dibaca, pusisi-puisi yang menyentuh hati. Ada pula yang menyukai linguistik, dengan mereka aku berbagi tentang berbagai bahasa di dunia. Namun, ada juga beberapa dari mereka yang lebih senang berhura-hura, belanja sana belanja sini menghabiskan uang. Keras kepala dan terkadang lebih mementingkan diri sendiri. Tapi bukan berarti keburukan mereka itu aku nilai sebagai sesuatu yang harus dihindari, terkadang mereka juga memiliki sisi baik dalam diri mereka. Contohnya seperti seorang temanku yang bernama Kamila, dia berasal dari keluarga kaya, orang tuanya adalah seorang pengusaha sukses. Dia manja, selalu bergantung pada orang tua, kebiasaan menghambur-hamburkan uang tak pernah bisa ia tinggalkan, selalu belanja barang bermerk, tak pernah bisa bertahan lama dalam suatu hubungan percintaan yang menyebabkan ia sering gonta ganti pasangan. Tapi hal itu lalu tidak membuatku menilai dia dengan sebelah mata, jauh dalam dirinya, dia masih punya satu sisi baik, dia selalu bisa buatku tertawa kala kita berbicara akrab, selalu membantu jika aku susah. Nah, tidak semua keburukan itu bisa digunakan untuk menilai baik buruknya seseorang.
Kasus lainnya, beberapa minggu yang lalu aku mengenal teman baru yang bernama Sinta. Seorang transgender, dia berjenis kelamin laki-laki awalnya, tapi seiring perkembangan psikologinya, dia merasa bahwa sosok permpuan dalam dirinya lebih mendominasai sehingga dia memutuskan untuk berpindah dari laki-laki menjadi perempuan. Untungnya, aku adalah orang yang open-minded, tak ada hak untukku menilai dia, biar itu menjadi urusannya dengan Tuhan. Karena dalam berteman aku tak pernah melihat latar belakang mereka, selama mereka nyaman dan tulus untuk berteman, kenapa tidak?.
Beberapa minggu yang lalu, aku berkenalan dengan seorang perempuan yang bernama Asti. Dia seorang lesbian, punya pacar perempuan. Gaya berpakaiannya mirip laki-laki seperti kebanyakan dari kaum seperti dia. Entah apa yang membuatnya berbelok ke arah itu, aku pun tak ingin bertanya lebih jauh, kembali lagi karena itu hak dia, urusan dia yang nantinya akan dia pertanggungjawabkan sendiri pada Tuhan. Kita tak perlu menilai seorang teman terlalu jauh, cukup nilai saja apakah kita nyaman berteman dengan mereka. Apa-apa yang menjadi keburukan mereka jangan ditiru, tapi tak lupa juga untuk menasehati, dan ambilah yang baik-baik dari mereka. Jangan pernah menilai seseorang jika kamu tak ingin dinilai.
Itu hanya sebagian cerita dari teman-temanku. Masih banyak lagi mereka dengan keunika-keunikan mereka, yang tak bisa aku ceritakan semua. Yang jelas, aku senang bisa bertemu dan mengenal mereka. Cerita dan kisah mereka telah mengajarkan banyak hal, melihat dan merasakan sesuatu yang tak pernah aku tahu sebelumnya. Mereka memperlihatkanku pada dunia luar. Membuatku merasa tak sendirian, dan melihat suatu hal tak hanya dari satu sisi. Apapun kebaikan dan keburukan mereka, semanis dan sepahit apapun kisah mereka selalu aku anggap sebagai suatu keunikan. Jangan jadikan keburukan itu menjadi dasar untuk menilai seseorang, ingat setiap manusia pasti memiliki dua sisi. Tergantung kita mau memilih mengikuti yang mana. Senang bisa bertemu dan mengenal kalian semua.

Nb : nama-nama yang ada dalam cerita adalah nama yang disamarkan.

No comments:

Post a Comment