Angin
bertiup begitu lembut, daun-daun dari rindangnya pohon berjatuhan seirama
dengan pergerakan angin. Siang itu terik matahari sangat menyengat. Tapi
panasnya sedikit terhalau oleh lembutnya hembusan angin.
Tak
jauh dari tempat itu, sebuah pohon besar berdiri tegak. Daunnya lebat dan
hijau, dahan dan ranting pohon terlihat begitu kokoh. Di salah satu rantingnya,
hinggaplah dua ekor burung, Ici dan Nuri. Burung berjenis kenari yang mungil
dan berwarna cerah. Seorang burung yang bernama Ici membuka percakapan.
“Kamu sudah terbang kemana saja
Nuri?”
“Tak jauh dari tempat ini,
terik matahari sangat menyengat” kata Nuri sambil meregangkan sayapnya.
“Sama sepertiku. Jika cuaca
terik begini, aku malas terbang tinggi.”
“Tapi diam di dahan pohon
seperti ini juga membosankan bukan?” sanggah Nuri.
“Iya.” Ici diam sejenak,
kemudian melanjutkan perkataannya “Kamu tahu, kadang jika aku bosan, aku selalu
membayangkan menjadi benda lain di dunia ini, yang bisa berguna bagi semua
orang.”
“Maksud kamu, kamu menyesal
menjadi seperti sekarang ini?” tanya Nuri lancing.
“Tentu tidak, aku hanya
membayangkan saja.”
“Oh, memangnya kamu
membayangkan dirimu menjadi apa Ici?”
“Terkadang aku membayangkan
diriku menjadi sebuah bintang” jawab Ici sambil menyunggingkan senyumnya.
Sesaat Nuri seperti berpikir,
lalu berkata “Tapi, bintang kan hanya setia pada malam.” Sanggahnya.
Ici terdiam, berpikir sejenak
“Kalau begitu, aku ingin menjadi matahari saja” lanjutnya. Tapi Nuri kemudian
menyanggah lagi “Matahari hanya menyapa pagi, lalu tenggelam bersama senja.”
Ici mengerutkan dahinya, mencoba berpikir kembali.
“Bagaimana kalau menjadi angin,
sejuk seperti sekarang ini?” tanya Ici. Lagi-lagi Nuri menyanggah “Tapi angin
tidak diam di satu tempat, dia hanya menghampiri lalu kemudian pergi lagi.”
Ici tampak berpikir keras lagi.
“Ah, bagaimana jika menjadi awan, dia meneduhkan sekaligus bisa menjadi hujan
yang membasahi bumi ini.” Dan untuk kesekian kalinya Nuri pun menyanggah lagi
“Emm, memang, tapi awan tak pernah diam, selalu berjalan terbawa angin, dan
hujan tidak selalu turun setiap kita butuhkan.”
“Lalu, menurutmu aku harus
menjadi apa?” Nuri diam sejenak, dia melihat ke langit luas, pandangannya
berkelilin g sejauh mata memandang. Kemudian dia melihat kebawahnya, tak lama
senyumnya tersungging “jadilah seperti tanah, selalu berada di bawah, menjadi
tempat berpijak, dia tidak muncul dan tidak juga hilang. Selalu ada, untuk
menjadi sandaran. Bahkan jika terbang tinggi sekalipun, tentu kita tak pernah
lupa untuk melihat ke bawah bukan? Ketika lelah, kita selalu bersandar pada
tanah. Begitupun mereka yang hidup dibawah sana. Tanah juga menjadi tempat
tumbuhnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, mikrobakteri dan teman-temannya.”
“Kamu benar Nuri. Baiklah,
kalau begitu aku ingin menjadi tanah, yang selalu menjadi sandaran.”
Kemudian kedua burung itupun
larut dalam percakapan hangat mereka hingga matahari bersembunyi di balik
senja.
No comments:
Post a Comment