April 17, 2012

Gadis dalam Cermin


Sebuah kamar yang terbilang luas dengan tembok bercatkan warna pastel, warna favoritnya. Tidak banyak barang yang ada dalam kamar itu, sebuah ranjang ukuran  sedang, meja kecil, rak berisikan koleksi buku-bukunya, lemari, dan televisi. Salah satu view favoritnya dalam kamar itu adalah sebuah jendela yang langsung mengarah ke langit luas, dimana dia selalu menyaksikan setiap tetes air hujan yang jatuh, dimana dia selalu memperhatikan bintang pada lukisan langit malam, dan dimana dia sering melihat orang-orang berlalu lalang di jalanan. Dan sebuah cermin , tempat dimana dia sering memperhatikan dirinya sendiri.
Malam itu hening dan sepi, gadis itu hanya bertemankan sebuah kamar yang menjadi dunianya selama ini. Tempat ternyaman untuk berkeluh kesah tanpa harus ada yang menilai dari sudut pandang manapun. Tempat dia biasa bercerita tentang hari-hari yang sudah ia lalui. Kamar itu sudah menjadi pendengar yang baik selama bertahun-tahun, sebuah saksi bisu dari kisah-kisahnya. Jadwal yang padat menguras waktunya seharian itu, mengejar deadline penyerahan tugas akhir pada dosen pembimbingnya, mengerjakan sebagian kerjaan yang diterimanya sekedar untuk menyibukkan waktu. Menyita pikirannya dari penat dan hingar bingar yang selalu menari-nari. Memang menyenangkan jika dapat menghindari semua permasalahan meski hanya untuk sesaat sebelum semuanya teringat kembali dengan jelas ketika ia hanya sendiri dalam kamar itu, kesibukan itu mengundang lemas, letih dan lesu pada fisiknya.
Waktu sudah menjelang dini hari, diambilnya sebuah krim pelembab untuk wajahnya. Dia berjalan menuju cermin, mulai mempoles krim ke wajahnya. Selesai itu, dia belum beranjak dari depan cermin, dipandanginya sosok wajah yang ada dihadapannya. “Inikah diriku?” batinnya, tidak ada yang istimewa dari pandangannya. Kadang ia bertanya-tanya, apa sosok diseberang cermin itu mengalami hal-hal yang sama seperti apa yang ia alami? Jika tidak, andai saja bisa bertukar tempat dan menghilang dari penat yang ia rasakan. Dia terus memandangi sosok dirinya dari tempat yang berbeda, apa diseberang cermin itu ada kehidupan lain, sedikit berfantasi tentang satu sosok yang sama namun memiliki kehidupan yang berbeda. Dia coba tersenyum, sosok gadis yang terlihat didepannya pun ikut tersenyum, begitu manis, tidak tampak beban pikiran yang ditanggungnya, berharap andai saja bisa tersenyum semanis itu tanpa harus memikul beban. Rasanya begitu miris, ketika melihat sosok dirinya sendiri di depan cermin namun dalam keadaan yang berbeda, apa sosok itu juga ikut merasakan beban yang dipikulnya ketika tersenyum semanis tadi. Sedangkan  ia sendiri jelas-jelas merasakan senyum yang tertahan, senyuman yang seolah-olah berkata “Kenapa hidupku jadi seperti ini”, semacam menertawakan diri sendiri. Dia ingin tersenyum dari arah yang berbeda, dari tempat berbeda yang terlihat didepannya, senyuman semanis sosok gadis yang ada dihadapannya. Semakin lama ia menatap sosok itu, dilihatnya mata yang mulai berlinang, tak lama kemudian butiran air jatuh dari sudut mata kirinya, jatuh membasahi pipi, terus berjalan membasahi bibirnya, sejenak kemudian tangisannya tumpah, jadi satu dalam kesedihan yang mendalam. Dia terus menangis sambil menatap sosok gadis yang ada dihadapannya. Sosok itu ikut menangis. Kenapa gadis yang ada dihadapannya ikut menangis? Apa yang ditangisinya, apa dia ikut terhanyut dalam kesedihan sepertiku? Matanya mulai memerah, tetesan air mata jatuh semakin deras. Sekilas dia merasakan kesedihan sambil memperhatikan sosok gadis yang ikut menangis dihadapannya, kesedihan yang semakin dalam terlihat dihadapannya, tangisannya semakin pecah bersamaan dengan dilihatnya raut sedih dan tangisan sosok gadis dalam cermin itu. Tangisan dan kesedihan itu jadi satu dan terus memuncak, sampai akhirnya dia merasakan kelelahan. Perlahan ditahannya tangisan itu, tangisan gadis dicermin itupun mulai melemah, tersengal-sengal mencoba menahan tangisan, nafasnya terlihat berat. Perlahan-lahan, tangisannya mulai reda, dan kemudian benar-benar berhenti.
Ah sudahlah, ternyata sosok gadis dalam cermin itu sama saja. Kehidupan yang ia jalani di dalam sana tidak ada bedanya dengan yang ia rasakan, bahagia dan sedih yang bersamaan datangnya. Apa yang bisa diharapkannya dari sosok gadis dalam cermin itu. Karena sosok itu memang dirinya sendiri. Dia tidak bisa melihat secara langsung suka dan duka yang ia rasakan, sampai ia melihat sendiri sosoknya dalam cermin. Apa yang terlihat dalam cermin, itulah yang terlihat dalam dirinya sendiri. Karena terkadang, memang dibutuhkan sebuah cermin untuk melihat dengan jelas rasa yang dia alami, baik itu suka maupun duka. Untuk melihat seberapa besar kebahagiaan dan sedalam apa kesedihan yang ia rasakan.

No comments:

Post a Comment