Sebuah kamar yang terbilang luas dengan
tembok bercatkan warna pastel, warna favoritnya. Tidak banyak barang yang ada
dalam kamar itu, sebuah ranjang ukuran sedang, meja kecil, rak berisikan koleksi
buku-bukunya, lemari, dan televisi. Salah satu view favoritnya dalam kamar itu adalah sebuah jendela yang langsung
mengarah ke langit luas, dimana dia selalu menyaksikan setiap tetes air hujan
yang jatuh, dimana dia selalu memperhatikan bintang pada lukisan langit malam,
dan dimana dia sering melihat orang-orang berlalu lalang di jalanan. Dan sebuah
cermin , tempat dimana dia sering memperhatikan dirinya sendiri.
Malam itu hening dan sepi, gadis itu
hanya bertemankan sebuah kamar yang menjadi dunianya selama ini. Tempat
ternyaman untuk berkeluh kesah tanpa harus ada yang menilai dari sudut pandang
manapun. Tempat dia biasa bercerita tentang hari-hari yang sudah ia lalui.
Kamar itu sudah menjadi pendengar yang baik selama bertahun-tahun, sebuah saksi
bisu dari kisah-kisahnya. Jadwal yang padat menguras waktunya seharian itu,
mengejar deadline penyerahan tugas
akhir pada dosen pembimbingnya, mengerjakan sebagian kerjaan yang diterimanya
sekedar untuk menyibukkan waktu. Menyita pikirannya dari penat dan hingar
bingar yang selalu menari-nari. Memang menyenangkan jika dapat menghindari
semua permasalahan meski hanya untuk sesaat sebelum semuanya teringat kembali
dengan jelas ketika ia hanya sendiri dalam kamar itu, kesibukan itu mengundang
lemas, letih dan lesu pada fisiknya.
Waktu sudah menjelang dini hari,
diambilnya sebuah krim pelembab untuk wajahnya. Dia berjalan menuju cermin,
mulai mempoles krim ke wajahnya. Selesai itu, dia belum beranjak dari depan
cermin, dipandanginya sosok wajah yang ada dihadapannya. “Inikah diriku?”
batinnya, tidak ada yang istimewa dari pandangannya. Kadang ia bertanya-tanya,
apa sosok diseberang cermin itu mengalami hal-hal yang sama seperti apa yang ia
alami? Jika tidak, andai saja bisa bertukar tempat dan menghilang dari penat
yang ia rasakan. Dia terus memandangi sosok dirinya dari tempat yang berbeda,
apa diseberang cermin itu ada kehidupan lain, sedikit berfantasi tentang satu
sosok yang sama namun memiliki kehidupan yang berbeda. Dia coba tersenyum,
sosok gadis yang terlihat didepannya pun ikut tersenyum, begitu manis, tidak
tampak beban pikiran yang ditanggungnya, berharap andai saja bisa tersenyum
semanis itu tanpa harus memikul beban. Rasanya begitu miris, ketika melihat
sosok dirinya sendiri di depan cermin namun dalam keadaan yang berbeda, apa
sosok itu juga ikut merasakan beban yang dipikulnya ketika tersenyum semanis
tadi. Sedangkan ia sendiri jelas-jelas
merasakan senyum yang tertahan, senyuman yang seolah-olah berkata “Kenapa hidupku
jadi seperti ini”, semacam menertawakan diri sendiri. Dia ingin tersenyum dari
arah yang berbeda, dari tempat berbeda yang terlihat didepannya, senyuman
semanis sosok gadis yang ada dihadapannya. Semakin lama ia menatap sosok itu,
dilihatnya mata yang mulai berlinang, tak lama kemudian butiran air jatuh dari
sudut mata kirinya, jatuh membasahi pipi, terus berjalan membasahi bibirnya,
sejenak kemudian tangisannya tumpah, jadi satu dalam kesedihan yang mendalam.
Dia terus menangis sambil menatap sosok gadis yang ada dihadapannya. Sosok itu
ikut menangis. Kenapa gadis yang ada dihadapannya ikut menangis? Apa yang
ditangisinya, apa dia ikut terhanyut dalam kesedihan sepertiku? Matanya mulai
memerah, tetesan air mata jatuh semakin deras. Sekilas dia merasakan kesedihan
sambil memperhatikan sosok gadis yang ikut menangis dihadapannya, kesedihan
yang semakin dalam terlihat dihadapannya, tangisannya semakin pecah bersamaan
dengan dilihatnya raut sedih dan tangisan sosok gadis dalam cermin itu.
Tangisan dan kesedihan itu jadi satu dan terus memuncak, sampai akhirnya dia
merasakan kelelahan. Perlahan ditahannya tangisan itu, tangisan gadis dicermin
itupun mulai melemah, tersengal-sengal mencoba menahan tangisan, nafasnya
terlihat berat. Perlahan-lahan, tangisannya mulai reda, dan kemudian
benar-benar berhenti.
Ah sudahlah, ternyata sosok gadis dalam
cermin itu sama saja. Kehidupan yang ia jalani di dalam sana tidak ada bedanya
dengan yang ia rasakan, bahagia dan sedih yang bersamaan datangnya. Apa yang
bisa diharapkannya dari sosok gadis dalam cermin itu. Karena sosok itu memang
dirinya sendiri. Dia tidak bisa melihat secara langsung suka dan duka yang ia
rasakan, sampai ia melihat sendiri sosoknya dalam cermin. Apa yang terlihat
dalam cermin, itulah yang terlihat dalam dirinya sendiri. Karena terkadang,
memang dibutuhkan sebuah cermin untuk melihat dengan jelas rasa yang dia alami,
baik itu suka maupun duka. Untuk melihat seberapa besar kebahagiaan dan sedalam
apa kesedihan yang ia rasakan.
No comments:
Post a Comment