Sudah
setengah jam Nina duduk di sebuah bangku dekat perpustakaan. Memantau
sekitarnya, hari itu kampus terlihat tidak seramai seperti hari-hari kerja. Dia
sendiri tak tahu pasti mengapa masih berada di bangku itu. Tadi pagi sekali
sekitar jam 8 tepat dia sudah duduk manis di salah satu sudut favoritnya di
perpustakaan. Setiap harinya dia berada di sudut itu untuk menulis tesisnya,
sudut yang sempit, sepi namun menenangkan.
“Hey Nin”.
Sapa seorang wanita dari arah kanannya. Nina menoleh, dia mengenal sosok yang
menyapanya. Mbak Diana, salah seorang teman kelas yang ditemukannya hari itu.
Sejak memasuki semester 3 sudah tidak ada mata kuliah yang diwajibkan, jadi dia
memang sudah jarang berkumpul dengan teman-teman kelasnya. Bahkan tak jarang
dia menemukan hanya 1 atau 2 batang hidung temannya yang nampak di kampus.
Jadi, ketika bertemu dengan salah seorang dari mereka, rasanya senang sekali,
mengingat tidak banyak yang dia kenal di kampus pada hari itu. “Hey mbak,
tumben kelihatan. Ada perlu apa di kampus?” tanya Nina ramah. “Hanya mau
bertemu Pak Priyono. Mau bimbingan. Kamu lagi nunggu siapa disini?” Kemudian
bingung menjawab “Eh, gak nunggu siapa-siapa mbak, Cuma tadi habis dari perpus.
Jadi, masih mau duduk dulu disini.” “Oh, ya sudah kalau begitu aku mau ke
ruang dosen dulu ya. “ “Iya, mbak.” Jawab Nina sambil tersenyum.
Setelah mbak
Diana hilang dari pandangannya, kembali matanya beralih memperhatikan
mahasiswa-mahasiswa yang lalu lalang disekitarnya. Di sampingnya duduk dua
orang yang nampaknya sedang hangat berbicara, namun Nina sempat ingin tertawa
menyadari bahwa salah satu dari dua orang itu seorang lelaki yang berperawakan
seperti orang asing atau yang biasa orang sebut ‘bule’, sepertinya memang dia
bule asli, tapi fasih sekali berbahasa Jawa. Sudahlah, mungkin dia blasteran
Jawa dan luar, entah itu Jerman, Belanda atau Prancis. Lepas dari dua orang
yang duduk di sampingnya, matanya kemudian tertuju pada segerombolan
gadis-gadis yang baru keluar dari salah satu ruang kuliah, mereka tertawa
sambil bercanda, wajah mereka tampak riang. Ekspresi mereka persis seperti
ekspresi dia beserta teman-teman kelasnya setelah mengikuti kuliah, perasaan
riang yang mengungapkan kegembiraan karena terbebas dari mata kuliah yang membuat
kantuk dan membosankan, juga dosen yang sebenarnya malas untuk dilihat. Tapi,
justru itu yang dirindukan Nina, suasana kelas saat kuliah berlangsung. Di
belakang adalah tempat duduk favoritnya, tidak menjadi sorotan dosen dan
tentunya bisa ber-smsan ria, berbincang-bincang walau hanya dengan bisikan dan
suara yang tertahan agar tidak terdengar sampai depan kelas.
Nina melirik
jam tangan kesayangannya. Ternyata sudah satu jam terlewati sejak dia keluar
dari perpustakan dan kemudian duduk di bangku itu. Suasana di sekitar semakin
terasa sepi, sudah jam 12 tepat. Jam dimana para pegawai fakultas beristirahat,
memanfaatkan waktu untuk makan siang dan shalat. Perpustakaan pun sudah tutup,
dan akan kembali buka setelah jam 1 nanti. Dilihatnya deretan bangku yang
didudukinya. Hanya tinggal dia sendiri disana. Akhirnya, dia memutuskan untuk
beranjak dari bangku dan pulang menuju kosnya. Diraihnya tali ransel tas
laptop, sesaat sebelum mengangkat badannya. Ditolehnya arah kirinya. Matanya
terkunci melihat sosok yang sedang berjalan, dia pun mengurungkan niatnya untuk
beranjak. Sosok yang tadi dilihatnya
berjalan , lalu berhenti disebuah tempat duduk di bawah pohon tepat di arah jam
10 dari posisi Nina duduk. Dipandangi sosok itu, dia seorang lelaki tinggi, agak
kurus, rapi, dan berjambang. Tipe favorit Nina. Dilihatnya terus lelaki itu,
cara dia bercanda, tertawa dengan teman—temannya. Entah mengapa dia sangat
mengagumi sosol lelaki itu, perkiraannya
dia adalah mahasiswa strata 1, entah
mengambil jurusan apa, jangankan informasi semacam itu, namanya saja Nina tidak
tahu. Tak jarang dia melihat sosoknya setiap Nina berada di kampus. Dari jauh,
Nina mengagumi sosok itu dalam diam. Terus memperhatikan dan tak sedikitpun
gerak-geriknya luput dari pandangan Nina. Dari kebiasaannya yang selalu
memandangi lelaki itu diam-diam, memperhatikan gerak-geriknya setiap bertemu di
kampus itu. Nina jadi tahu sedikit hal dari lelaki itu. Dia seorang yang rapi,
bersih, suka memakai kemeja motif kotak-kotak, dan menyukai warna gelap.
Setelah
duduk lama memandangi sosok lelaki itu, tiba-tiba perutnya terasa perih.
Barulah tersadar kalau sudah waktunya jam makan siang. Nina pun tak mau
mengambil resiko kalau kalau penyakit maagnya kumat lagi. Dia pun benar-benar
beranjak dari bangku itu, menuju tempat parkir sebelah barat kampusnya. Sebelum
keluar dari pelataran parkir, masih sempat dia mengeluarkan telepon genggamnya,
kemudian mengetik sebuah pesan untuk teman dekatnya. “Dee, tadi aku ketemu ‘si
jambang’ :-).” Lalu dia pun pulang di bawah panas
teriknya sinar matahari siang itu.
No comments:
Post a Comment