April 12, 2012

Jejaring Sosial Banjir Drama


Well, jejaring sosial memang merupakan sarana untuk berbagi, berkomunikasi dan mendapat teman-teman baru. Dari segi positifnya memang sudah banyak yang mengatakan kalau jejaring sosial itu sangat sangat bermanfaat. Salah satu contohnya, seperti saya, yang bertemu kembali dengan sebagian teman-teman SD, SMP. SMA ataupun teman lama yang sudah tidak pernah terdengar lagi kabarnya dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian para pengguna jejaring sosial juga saling berbagi informasi. Namun, tak banyak pengguna yang seperti itu, sebagian dari mereka juga membawa persoalan pribadinya ke jejaring sosial. Curhat inilah, itulah. Caci maki dan hinaan buat si inilah si itulah. Omongan kotor yang sangat tidak etis untuk dibaca. Bahkan, ada pula yang meng-upload foto ciumannya bersama pacar. Waduh, sudah melampaui batas aja ya.
Yah, memang 80% isi dari jejaring sosial itu adalah drama. Banyak para pengguna yang sudah melewati batas dalam membuat status (sejauh ini hanya sepengamatan saya saja, entah menurut kalian bagaimana). Mengumbar masalah pribadi untuk konsumsi bagi pengguna yang lain. Sebenarnya apa yang menjadi alas an dasar mereka melakukan itu? Emm..apa sebagian dari mereka merasa sudah menjadi orang yang disorot oleh teman-teman jejaring sosial mereka? (re: artis). Apa mereka juga beranggapan, jika menulis status yang menghebohkan akan banyak yang menanggapi, karena jujur kebanyakan orang memang akan merasa senang dan puas jika status atau masalahnya menjadi pusat perhatian yang lain. Adapun yang melakukannya semata-mata atas dasar ingin menunjukkan bahwa mereka adalah orang hebat (dalam artian sempit lo!). Mengharumkan nama bangsa dengan meraih medali emas baru bisa disebut sebagai orang hebat. Lah ini, apa status yang mengumbar keburukan bisa dibilang hebat, seperti contohnya status seorang anak yang masih duduk di bangku SMP yang berbunyi seperti ini “emang kamu setan, suka bikin emosi” “kamu sibuk-sibuk sendiri, urus aja sana urusanmu sendiri, tai!”. Hah, ABG labil, apa sih yang dibanggakan dari status yang mengumbar kejelakan-kejelekan itu. Saya sampai tidak habis pikir. Anehnya banyak juga yang menanggapi, terbuktilah yang menanggapi itu juga termasuk orang-orang pengobral kejelekan dan keburukannya sendiri. Eh, malah status-status yang bermaksud untuk sekedar mencari informasi tak digubris sama sekali.
Kemudian, selain masalah pribadi yang di umbar-umbar dengan gratis, ada pula status-status yang bertema GALAU! Nah, yang ini dialami hampir semua pengguna jejaring sosial. Fenomena kata ‘galau’ memang sudah merajalela, sudah seperti virus, menyerang berbagai kalangan dan semua umur, hahahaha… ada yang galau karena putus cinta lah, galau karena bingung mau memilih yang mana sebagai pasangannya, problema romantika dua sejoli, para pria dan wanita yang lagi di tinggal pacar pergi sampai rindunya sudah tak bisa di tahan-tahan lagi ibaratnya mules, harus keluar saat itu juga sama seperti rindu atau kangen yang harus terlampiaskan saat itu juga. Yang paling membuat saya sedih, miris adalah anak-anak kecil di bawah umur yang dewasa sebelum waktunya ckckck.. ada sebuah status yang membuat saya benar-benar tercengang, anak kelas 5 SD yang sudah bisa menulis status seperti ini “senang ya bisa liat orang yang kita cintai.” Alamaaaak,,ini yang kolot saya atau memang si anak yang sudah melayang tinggi meninggalkan kepolosannya?
Lepas dari masalah status yang mengumbar dan kegalauan, fungsi jejaring sosial yang menjadi sarana untuk berbagi foto-foto juga sering disalahgunakan. Foto-foto narsis yang tak jelas, rasis, tidak etis bahkan yang berbau mesum banyak di upload ke dalam jejaring sosial. Bukankah seharusnya itu menjadi sarana untuk berbagi foto-foto kegiatan atau ekspresi dari setiap orang dalam kehidupannya yang tentunya bersifat positif. Terlebih lagi bagi pasangan yang sedang berbunga-bunga atau istilah lainnya sedang dimabuk cinta (re: baru jadian). Setiap menit upload foto yang posenya berbeda-beda, entah itu yang sedang pelukanlah, gandengan tangan, maksud hati untuk membagi kebahagiaan dengan teman-teman yang lain. Masih bisa dikatakan wajar sepertinya, dengan alibi sedang dilanda kasmaran. Tapi apa jadinya kalau yang di upload itu foto ciuman? Sumpah ya, langsung jijik. Apa yang bisa dibanggakan dari mengumbar foto mesum begitu? Yang lebih kasihan lagi apa pikiran orang tentang si wanitanya, karena dimana-dimana si pihak wanita lebih sering menjadi pihak yang dirugikan kalau menyangkut masalah permesuman. Pacar yang tak tahu di untung, seenaknya menyebarkan foto seperti itu.
Dan masih banyak status-status yang mengumbar kejelekan dan keburukan mereka. Sebenarnya, jika ditinjau lagi jejaring sosial akan sangat-sangat bermanfaat jika digunakan untuk hal-hal positif, berbagi hal yang positif, bersifat membangun, pertukaran informasi yang berguna satu sama lain. Namun, fungsi itu sudah bersifat meluas dan sudah melampaui batas yang seharusnya. Lalu, siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini? Pencipta jejaring sosial? Para penggunanya? Alangkah baiknya jika semua pengguna jejaring sosial itu tahu diri dan mengerti batas-batas penggunaannya. Tapi ya memang susah untuk memperbaiki kelewatan batas itu kalau mereka sendiri tidak berniat untuk merubahnya dan tidak punya kesadaran dalam membedakan mana yang harus diumbar dan mana yang dilarang untuk diumbar .

No comments:

Post a Comment