Well, jejaring sosial memang merupakan sarana untuk berbagi,
berkomunikasi dan mendapat teman-teman baru. Dari segi positifnya memang sudah
banyak yang mengatakan kalau jejaring sosial itu sangat sangat bermanfaat.
Salah satu contohnya, seperti saya, yang bertemu kembali dengan sebagian
teman-teman SD, SMP. SMA ataupun teman lama yang sudah tidak pernah terdengar
lagi kabarnya dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian para pengguna jejaring
sosial juga saling berbagi informasi. Namun, tak banyak pengguna yang seperti
itu, sebagian dari mereka juga membawa persoalan pribadinya ke jejaring sosial.
Curhat inilah, itulah. Caci maki dan hinaan buat si inilah si itulah. Omongan
kotor yang sangat tidak etis untuk dibaca. Bahkan, ada pula yang meng-upload foto ciumannya bersama pacar.
Waduh, sudah melampaui batas aja ya.
Yah, memang
80% isi dari jejaring sosial itu adalah drama. Banyak para pengguna yang sudah
melewati batas dalam membuat status (sejauh ini hanya sepengamatan saya saja,
entah menurut kalian bagaimana). Mengumbar masalah pribadi untuk konsumsi bagi pengguna
yang lain. Sebenarnya apa yang menjadi alas an dasar mereka melakukan itu?
Emm..apa sebagian dari mereka merasa sudah menjadi orang yang disorot oleh
teman-teman jejaring sosial mereka? (re: artis). Apa mereka juga beranggapan,
jika menulis status yang menghebohkan akan banyak yang menanggapi, karena jujur
kebanyakan orang memang akan merasa senang dan puas jika status atau masalahnya
menjadi pusat perhatian yang lain. Adapun yang melakukannya semata-mata atas
dasar ingin menunjukkan bahwa mereka adalah orang hebat (dalam artian sempit
lo!). Mengharumkan nama bangsa dengan meraih medali emas baru bisa disebut
sebagai orang hebat. Lah ini, apa status yang mengumbar keburukan bisa dibilang
hebat, seperti contohnya status seorang anak yang masih duduk di bangku SMP
yang berbunyi seperti ini “emang kamu setan, suka bikin emosi” “kamu
sibuk-sibuk sendiri, urus aja sana urusanmu sendiri, tai!”. Hah, ABG labil, apa
sih yang dibanggakan dari status yang mengumbar kejelakan-kejelekan itu. Saya
sampai tidak habis pikir. Anehnya banyak juga yang menanggapi, terbuktilah yang
menanggapi itu juga termasuk orang-orang pengobral kejelekan dan keburukannya
sendiri. Eh, malah status-status yang bermaksud untuk sekedar mencari informasi
tak digubris sama sekali.
Kemudian,
selain masalah pribadi yang di umbar-umbar dengan gratis, ada pula
status-status yang bertema GALAU! Nah, yang ini dialami hampir semua pengguna
jejaring sosial. Fenomena kata ‘galau’ memang sudah merajalela, sudah seperti
virus, menyerang berbagai kalangan dan semua umur, hahahaha… ada yang galau
karena putus cinta lah, galau karena bingung mau memilih yang mana sebagai
pasangannya, problema romantika dua sejoli, para pria dan wanita yang lagi di
tinggal pacar pergi sampai rindunya sudah tak bisa di tahan-tahan lagi
ibaratnya mules, harus keluar saat itu juga sama seperti rindu atau kangen yang
harus terlampiaskan saat itu juga. Yang paling membuat saya sedih, miris adalah
anak-anak kecil di bawah umur yang dewasa sebelum waktunya ckckck.. ada sebuah
status yang membuat saya benar-benar tercengang, anak kelas 5 SD yang sudah
bisa menulis status seperti ini “senang ya bisa liat orang yang kita cintai.”
Alamaaaak,,ini yang kolot saya atau memang si anak yang sudah melayang tinggi
meninggalkan kepolosannya?
Lepas dari
masalah status yang mengumbar dan kegalauan, fungsi jejaring sosial yang
menjadi sarana untuk berbagi foto-foto juga sering disalahgunakan. Foto-foto
narsis yang tak jelas, rasis, tidak etis bahkan yang berbau mesum banyak di upload ke dalam jejaring sosial.
Bukankah seharusnya itu menjadi sarana untuk berbagi foto-foto kegiatan atau
ekspresi dari setiap orang dalam kehidupannya yang tentunya bersifat positif.
Terlebih lagi bagi pasangan yang sedang berbunga-bunga atau istilah lainnya
sedang dimabuk cinta (re: baru jadian). Setiap menit upload foto yang posenya
berbeda-beda, entah itu yang sedang pelukanlah, gandengan tangan, maksud hati
untuk membagi kebahagiaan dengan teman-teman yang lain. Masih bisa dikatakan
wajar sepertinya, dengan alibi sedang dilanda kasmaran. Tapi apa jadinya kalau
yang di upload itu foto ciuman?
Sumpah ya, langsung jijik. Apa yang bisa dibanggakan dari mengumbar foto mesum
begitu? Yang lebih kasihan lagi apa pikiran orang tentang si wanitanya, karena
dimana-dimana si pihak wanita lebih sering menjadi pihak yang dirugikan kalau
menyangkut masalah permesuman. Pacar yang tak tahu di untung, seenaknya
menyebarkan foto seperti itu.
Dan masih
banyak status-status yang mengumbar kejelekan dan keburukan mereka. Sebenarnya,
jika ditinjau lagi jejaring sosial akan sangat-sangat bermanfaat jika digunakan
untuk hal-hal positif, berbagi hal yang positif, bersifat membangun, pertukaran
informasi yang berguna satu sama lain. Namun, fungsi itu sudah bersifat meluas
dan sudah melampaui batas yang seharusnya. Lalu, siapa yang harus disalahkan
dalam masalah ini? Pencipta jejaring sosial? Para penggunanya? Alangkah baiknya
jika semua pengguna jejaring sosial itu tahu diri dan mengerti batas-batas
penggunaannya. Tapi ya memang susah untuk memperbaiki kelewatan batas itu kalau
mereka sendiri tidak berniat untuk merubahnya dan tidak punya kesadaran dalam
membedakan mana yang harus diumbar dan mana yang dilarang untuk diumbar .
No comments:
Post a Comment